Greget Politik Perempuan Perlu Diperkuat
Di pemilu lalu, sedikit banyak kaum perempuan sudah memberi warna dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Namun, mereka masih memerlukan dorongan. Inilah alasan dibentuknya Forum Bersama untuk Peningkatan Keterwakilan Perempuan di Parlemen (FBKP) di Malang.
Sore 6 Mei lalu, gerbang rumah Sri Wahyuningsih terbuka penuh. Papan bertulis Dian Mutiara Women's Crisis Centre pun terlihat jelas. Dari kaca rumah itu, sekilas saya melihat Wahyu tengah menunaikan ibadah sholat. Melalui telepon beberapa saat sebelumnya, Wahyu memang baru bangun dari tidurnya. Ia mengaku kelelahan karena baru saja mendampingi seorang perempuan yang tengah berperkara di kantor polisi. Kemungkinan urusan itu terkait dengan kekerasan rumah tangga, pemerkosaan, atau kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Sejak September 2008, Wahyu aktif di FBKP. Beberapa caleg perempuan alumni dan peserta Sekolah Demokrasi wilayah Kabupaten Malang dan Batu turut tergabung di FBKP, yang didirikan sebagai wadah yang salah satunya bertujuan mendongkrak greget politik caleg perempuan di Malang Raya. Sejauh ini, Wahyu dan Ummu Hilmy (Dian Mutiara), Sutiah (Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan), dan Salma Safitri Rahayaan (Suara Perempuan Desa), menilai greget politik caleg-caleg perempuan di Malang masih kurang.
Pendapat ini dibenarkan oleh aktivis Ruang Mitra Perempuan (Rumpun) Malang yang juga alumna Sekolah Demokrasi III, Nila Wardani. Nila menilai caleg perempuan pada pemilu legislatif lalu belum cukup fight. "Mereka belum mampu menghadapi persaingan politik ataupun kecurangan-kecurangan yang terjadi. Perangkat pendukung mereka masih lemah. Misalnya, tidak ada saksi yang kuat yang mengawal mereka," ujar Nila. Ia menambahkan, gerakan caleg perempuan di luar struktur partai tidak begitu kelihatan, dan pendekatan para caleg itu kepada masyarakat juga dianggap masih kurang.
Salah satu faktor yang menyebabkan lemahnya caleg perempuan pada kontestasi politik April lalu, adalah belum masifnya pendampingan partai, sehingga caleg perempuan mengalami kesulitan, saat harus menghadapi persaingan politik. Hanya sebagian kecil caleg perempuan yang sudah mendapat pendidikan politik yang memadai dari partainya.
Satu hal yang juga menjadi hambatan, menurut Nila, adalah peraturan suara terbanyak yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi (MK). Seperti wacana yang berkembang sekitar tiga bulan lalu, peraturan tersebut tidak menguntungkan posisi caleg perempuan. Akibatnya, caleg perempuan tambah keteteran di lapangan. Nila menambahkan, sistem suara terbanyak sebenarnya juga melanggengkan praktik jual beli suara.
Selama bergaul dengan para caleg, Wahyu mengamati caleg-caleg perempuan tidak mampu mempromosikan diri. Untuk membayar iklan di koran saja tidak mampu. Di samping itu, mereka tidak cukup mampu memanfaatkan peluang yang ada untuk mengkampenyakan diri. Dalam dialog interaktif yang difasilitasi FBKP saja, misalnya, semestinya caleg selalu menyiapkan diri setiap saat. Sehingga, seandainya ada narasumber yang tidak hadir, mereka bisa masuk mengisi dialog. "Sayangnya, pemanfaatan peluang semacam itu tidak terjadi," imbuh Wahyu
Sejauh ini FBKP sudah melakukan berbagai kegiatan. Selain pertemuan bulanan, FBKP juga menggelar deklarasi antipolitik uang yang diselenggarakan 8 Maret lalu, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Sekitar 70 orang yang terdiri dari caleg, aktivis, akademisi, pejabat, hadir dalam deklarasi yang digelar di Pendopo Kabupaten Malang tersebut. Di samping itu, lebih dari 14 kali dialog interaktif di radio telah dilakukan FBKP dengan melibatkan caleg perempuan di Malang Raya.
Pasca 'istirahat' sejak menjelang pemilu legislatif, diadakan forum evaluasi pemilu legislatif. Dalam jangka pendek, FBKP berencana membukukan kurang lebih lima ratus pengalaman caleg dalam kontes politik legislatif lalu.
Kegiatan yang sedang dilaksanakan saat ini adalah pertemuan rutin setiap minggu yang diagendakan untuk membicarakan tema-tema terkait gender dan tema-tema lain yang mendukung. Selanjutnya, FBKP akan melihat apakah greget perempuan akan meningkat atau malah mengendur. "Kita lihat saja, apakah setiap kali pertemuan akan menyusut atau makin berkembang," ujar Wahyu. (Any Rufaidah, Malang)








