Caleg Perempuan Masih Terbentur Tradisi
Kiprah perempuan di parlemen masih menjadi isu hangat. Sejumlah pihak menilai ide ini dilontarkan dengan setengah hati, karena dalam praktiknya budaya patriarkhal di Indonesia belum membuka lebar pintu parlemen untuk caleg perempuan. Kholilatul Ummah (32), misalnya. Caleg perempuan alumna Sekolah Demokrasi angkatan tiga wilayah Kabupaten Malang yang ikut bersaing dalam Pemilu Legislatif 2009 ini mengaku, masih merasakan perbedaan akses politik dengan caleg laki-laki pada pemilu legislatif 9 April lalu.
Saya menemui Lila -begitu ia biasa disapa- di Sekretariat Komite Komunitas Malang: Komunitas Malang untuk Demokrasi (Komdek), Jumat malam, 8 Mei lalu. Ia mengaku memiliki waktu longgar malam itu. Sebelumnya, caleg Partai Demokrat Daerah Pemilihan 2 (Kecamatan Singosari, Kecamatan Pakis, dan Kecamatan Lawang) Kabupaten Malang itu sibuk mencari bukti penggelembungan suara yang dilakukan salah satu partai besar.
Seperti caleg-caleg lain, sejak ditetapkan sebagai caleg tetap pada Desember 2008, Lila segera menggelar aksi kampanye di berbagai tempat di dapilnya. Tak ketinggalan jamaah-jamaah tahlil ia datangi. Bedanya, Lila tidak mendapat kesempatan yang sama dengan caleg laki-laki. Tradisi yang telah melekat di masyarakat membuatnya tidak bisa masuk ke jamaah tahlil laki-laki.
Lila mengaku, sudah tiga kali ia mengajukan permohonan agar bisa menyampaikan visi dan misinya misi kepada sejumlah warga laki-laki dewasa yang tergabung dalam jamaah tahlil di sebuah Rukun Tetangga (RT). Ternyata, Ketua RT dan Ketua Rukun Warga (RW) setempat tidak memperkenankan dirinya hadir. "Saya saja yang menyampaikan, sampean (Anda) tidak usah hadir," begitu Lila menirukan ungkapan Ketua RT dan RW yang menolaknya. Tradisi menjadi alasan penolakan itu. Masih ada yang berpandangan, tidaklah lazim bagi seorang perempuan berpidato di hadapan jamaah laki-laki.
Akhirnya Lila hanya menitipkan kartu dan stiker kampanyenya kepada jamaah laki-laki, beserta salam agar jamaah memberi doa dan restu padanya. Kondisi ini sangat berbeda dengan yang berlaku pada caleg laki-laki. Umumnya, caleg laki-laki tidak menghadapi kesulitan untuk masuk di jamaah mana pun -jamaah laki-laki maupun perempuan. Tradisi tidak menjadi kendala bagi caleg laki-laki, yang memiliki akses kepada calon pemilih dua kali lebih mudah dibanding caleg perempuan.
Berbekal izin dari salah satu pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Partai Demokrat Kecamatan Singosari, Lila pernah nekad masuk ke pengajian laki-laki. Namun, apa daya respon jamaah tidak begitu baik. "Mereka hanya terdiam, tidak memberikan respon apa pun terhadap visi misi yang saya sampaikan," kisah Lila.
Tak hanya di luar partai. Bahkan di internal partainya pun, Lila masih menemukan suara-suara sumbang atas mobilitas caleg perempuan seperti dirinya. Suara tidak setuju atas tingginya mobilitas perempuan untuk mendapat dukungan masih kerap ia dengar. Ketika ia harus pulang larut malam -jam satu atau jam dua dini hari- Lila dinilai berlebihan. Lagi-lagi, tradisi menjadi landasan berpikir.
Lila menambahkan, sejumlah kalangan menilai, sepak terjang perempuan sebagai caleg relatif tidak lagi dipermasalahkan. Di jamaah-jamaah perempuan yang penting bukan lagi jenis kelamin, melainkan kapabilitas. Kontroversi ini tidak lagi terdengar di jamaah-jamaah perempuan, sekurangnya dalam pengamatan Lila.
Hal lain yang juga Lila sayangkan, adalah masih adanya usaha untuk menyudutkan caleg perempuan dengan isu agama. Salah satu caleg separtai Lila pernah mengungkapkan, bahwa perempuan -apalagi yang mengenakan jilbab- tidak seharusnya bergaul dengan laki-laki. Ungkapan tersebut didasari tata cara pergaulan dalam agama Islam.
Di luar persoalan tradisi, masih ada sejumlah persoalan politik yang tidak bersahabat pada kalangan perempuan. Salah satunya adalah bahwa keberadaan caleg perempuan dalam Pemilu 2009 ini hanya diadakan untuk memenuhi kuota 30 persen. Terkait hal ini, Lila mendapat pernyataan langsung dari Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Malang, yang juga maju sebagai caleg. Sang pengurus yang laki-laki itu mengatakan, pada Pemilu 2009 partai tidak perlu mengajukan caleg perempuan yang berkualitas. "Baru pada Pemilu 2014 nanti partai akan betul-betul memilih caleg perempuan yang berkualitas," kata sang caleg laki-laki itu seperti dikutip Lila. (Any Rufaidah, Malang)









tapi . . .
tetep aja, HIDUP PEREMPUAN!!!