Menepis Godaan Manipulasi Data
Salah satu elemen yang tidak bisa ditepikan dalam penyelenggaraan pemilu adalah teknologi informasi (TI). Penggunaan TI dalam pemilu juga menjadi salah satu titik yang rawan kecurangan. Tetapi, manusia tentu memiliki ‘otoritas' sendiri atas teknologi yang diciptakannya. Aloysius Baha Lajar (35), alumnus Sekolah Demokrasi angkatan kedua, yang tak lain adalah staf TI di KPUD Lembata, menolak sejumlah tawaran untuk memanipulasi data perolehan suara.
Kamis malam di hari pertama bulan Mei 2009. Sekitar 30 menit sebelum beralih ke hari kedua. Jalanan di kota Lewoleba telah sunyi. Sesekali sepeda motor melaju dari arah saling berlawanan. Kota ini seperti tidak berpenghuni. Saya mengarahkan laju sepeda motor butut kesayangan menuju Café Amigos. Ketua Panwaslu Lembata, Piter Payong mengabarkan akan diadakan rekapitulasi di tingkat kabupaten. Ini berita menarik, dan saya ingin mendapatkan informasi tentang perolehan suara parpol dan caleg di Dapil I yang meliputi Kecamatan Nubatukan, Ile Ape dan Ile Ape Timur.
Karena terlambat tiba di tempat, saya pun harus meminta data dari penanggung jawab TI KPUD Lembata, Aloysius Baha Lajar, yang biasa disapa Luis. Secara resmi, ia menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi Usaha Bagian Teknis Hubungan dan Partisipasi Masyarakat. Sebuah jabatan vital di tubuh KPUD Lembata, karena ia bertugas mempersiapkan sejumlah data-data teknis menjelang dan seusai pemilu.
Setiap kali memantau perhitungan suara, pria gondrong dan berkaca mata, lulusan Sekolah Demokrasi angkatan kedua itu selalu berada di balik laptop merk Toshiba. Dari situ ia bisa mengakses data-data perolehan suara caleg dan parpol di Kabupaten Lembata. Luis, seperti diakui Ketua KPUD Lembata Wilhelmus Panda Mana Apa, S.iP, adalah orang yang terampil dan ulet dalam mengerjakan tugas-tugas secara marathon. "Saya berharap dia bisa menjadi anggota KPUD Lembata. Namun dalam tes baru-baru ini ia tidak gol," ujar Ketua KPUD Lembata,
Usai acara rekapitulasi, Luis mengajak saya untuk mampir ke warung pecel lele, yang berada sekitar 500 meter dari Café Amigos Lewoleba. Kami memesan nasi goreng dan es teh. Dengan wajah lusuh akibat bekerja siang dan malam, Luis mengisahkan suka dukanya menangani TI KPUD Lembata. "Ama...(panggilan akrab untuk orang Lembata: artinya Pak), kalau saya timbang berat badan, bisa turun 5 kg karena mete (bergadang) siang malam," ujar Luis sambil menyeruput es teh.
Luis pun menyalakan sebatang rokok, dan menghisapnya dalam-dalam. "Kerja mulai tak kenal waktu. Dari pagi sampai pagi lagi, pada tahapan pemutakhiran data pemilih. Pekerjaannya mulai entri data, dicek satu persatu kemudian diprint. Kesulitannya karena pake program Ms.Excel, sehingga gampang berubah jika kita teledor memasukan rumus-rumus," ujar Luis.
Data pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang juga menjadi tanggungjawab pria ini, juga menyisakan persoalan serius. Luis mengaku, meski dalam timnya ada enam operator komputer plus 12 orang staf KPUD, beban kerja yang amat tinggi, faktor kelelahan membuat dirinya kesulitan memberesi data pemilih. Di lain pihak, sikap apatisme masyarakat yang tidak mau mendaftarkan diri kepada Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) juga membuat pekerjaan ini semakin rumit. Sementara di Kabupaten Lembata sendiri ada 471 caleg yang memperebutkan suara di 347 desa. "Kami terima data dasar dari Panitia Pemungutan Suara (PPS) berupa Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang ditulis secara manual. Kemudian kami entri, print dan koreksi ulang sampai menjadi DPS. Data DPS ini kami kirimkan lagi ke tiap desa di Lembata untuk dicek ulang, sampai akhirnya dikeluarkan DPT," jelas bapak dari Theodor Advent Primus Bala Lajar (12) dan Vincent Martin Januard Heidgger Emi Lajar (5)
Meski kepenatan selalu menghampiri, semua itu Luis kerjakan demi tanggungjawabnya dalam pelaksanaan hajatan demokrasi ini. Suami dari Agnes Setyaningsih Sarahutu (30) ini mengakui, dirinya menerima banyak godaan untuk mengubah data perolehan suara. Hal itu tidak saja diminta oleh teman-temannya sendiri, melainkan juga dari sejumlah pejabat lokal yang anaknya turut berkompetisi dalam pemilu legislatif kali ini. Namun dirinya menepis semua godaan ini, karena mengaku telah menghayati prinsip dan nilai-nilai demokrasi yang dipelajarinya di Sekolah Demokrasi. "Kita su belajar demokrasi baru orang mau akal kita begitu kan tidak mungkin ka...Kita selalu teriak kesana-kemari tentang kebebasan, kesetaraan dan kesamaan, lalu diajak untuk menindas orang lain. Kan tidak mungkin saya mau," tegas Luis dalam logat Lewolebanya.
Mantan guru Sekolah Menengah Kejuruan Sanctus Lewoleba ini berharap, proses demokrasi yang melelahkan ini akan menghasilkan wakil rakyat Lembata yang berkualitas dan tidak duduk di kursi dewan untuk memperkaya diri, melainkan memiliki kepedulian pada seluruh rakyat. "Saya harap proses yang melelahkan ini tidak sia-sia, karena menghasilkan orang kaya baru yang hanya memburu proyek-proyek pemerintah, dan tidak memahami peran dan fungsinya sebagai wakil rakyat," pungkasnya di akhir obrolan pukul dua dinihari, di hari kedua bulan Mei 2009.
Pekerjaan lain menyongsong pilpres akan kembali menguras tenaga Luis dan kawan-kawannya. Semoga segenap harapan Luis, yang tentu saja menjadi harapan kita semua, bahwa Indonesia memiliki anggota dewan yang berkualitas dan peduli pada masyarakat, bisa terwujud. (Alexander Taum, Lembata)








