Melek Realitas Setelah Menjadi Caleg

Dwi Nawangwulan (44) sebelumnya tak mengetahui sisi lain masyarakat Batu, Malang, Jawa Timur. Selama ini, ia menganggap masyarakat Batu sudah maju dan makmur, alias baik-baik saja. Setelah turun langsung ke masyarakat dalam kampanye pemilu lalu, Nawang menyadari anggapannya itu keliru. "Batu ternyata kayak begini, tidak seperti yang terpikirkan oleh saya awalnya," ujar Nawang.

Saya tiba di rumah Nawang di Dusun Gondang, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, saat matahari tepat di ubun-ubun beberapa hari lalu. Suami Nawang menyambut saya, dan mempersilakan saya duduk di teras samping rumah. Di teras itu, terpajang foto presiden pertama Indonesia, Ir.Soekarno. Terpajang pula kalender bergambar Nawang di satu sisi dinding. Kalender itu menjadi salah satu media sosialisasi Nawang pada saat menjadi caleg kemarin. Di sisi kiri tempat saya duduk, ada belasan majalah tertata rapi di sebuah meja kayu. Di antaranya ada majalah wanita Femina dan majalah Tempo. Satu topik majalah Tempo yang sempat saya baca pada saat itu adalah tentang pembunuhan aktivis hak asasi manusia asal Kota Batu, Munir.  

Tak lama kemudian saya mendengar suara ramah menyapa saya. Pemilik suara itu: Nawang. Ia adalah peserta Sekolah Demokrasi (SD) IV wilayah Kota Batu, yang dalam Pemilu Legislatif 2009 ini diusung Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) untuk menjaring suara pemilih di Daerah Pemilihan Kecamatan Bumiaji.  

Sebagaimana caleg-caleg lain, menjelang pemilu legislatif Nawang juga turun langsung ke masyarakat untuk mencari dukungan. Terhitung sejak Maret 2009, Nawang intens melakukan anjangsana ke rumah-rumah warga Kecamatan Bumiaji. Setiap hari, Nawang mengunjungi sejumlah dusun di Kecamatan Bumiaji. Salah satu dusun yang ia sambangi adalah Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Dusun Brau tak lain adalah salah satu dusun terpencil di Kota Batu, yang berada di daerah perbukitan. Mayoritas penduduk di dusun itu bekerja sebagai peternak sapi perah. Sebagian susu sapi kemudian dijual ke sejumlah koperasi di Kecamatan Pujon dan Batu.

Di Dusun Brau, Nawang menemukan sebuah realitas masyarakat yang jauh dari sebutan maju, sebagaimana masyarakat Kota Batu yang tampak di permukaan. Dilihat dari sisi pendidikan, anak-anak Dusun Brau umumnya hanya mengecap bangku SMP. Setelah lulus, mereka biasanya hanya bekerja sebagai peternak. Umumnya setiap hari warga mencari rumput dan memerah susu.

Sebenarnya, bekerja sebagai peternak sapi bukan sepenuhnya menjadi pilihan anak-anak Dusun Brau. Nawang mendengar sendiri, anak-anak muda di Brau ingin bekerja di sektor lain, seperti pabrik atau perusahaan. Namun apa daya, mereka terbentur dengan rendahnya tingkat pendidikan. Perempuan di Dusun Brau, seperti yang didengar sendiri oleh Nawang, mengharapkan adanya pekerjaan tambahan yang bisa dilakukan pada sore hari, seperti membuat kerajinan tangan.  

Di samping itu, Nawang melihat kehidupan masyarakat Dusun Brau sangat jauh dari sehat. Pola beternak warga Brau umumnya masih jauh dari standar kesehatan. Warga Brau lebih memilih menempatkan sapi mereka di dekat rumah. Sudah menjadi pemandangan umum, kandang sapi berada tepat di sebelah dapur atau ruang tamu. Alhasil, tidak ada rumah yang bebas dari bau kotoran sapi. Wajah Nawang tampak prihatin, saat menceritakan apa yang dilihatnya di Dusun Brau.  

Realitas lain yang menyentuh Nawang, adalah sangat tingginya tingkat pengangguran. Sebagian besar pemuda di Batu memang sudah bekerja. Tetapi sesungguhnya, pekerjaan yang mereka jalani tidak bisa diandalkan, yaitu buruh tani. Dalam rangka sosialisasi pemilu, Nawang pernah melakukan pertemuan dengan pemuda di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji. Dalam pertemuan itu, Nawang sempat menanyakan apa yang menjadi harapan pemuda Pandanrejo. Dan jawaban mereka tak lain adalah: lapangan pekerjaan. Dari harapan tersebut, Nawang semakin memahami bahwa Kota Batu memiliki problem serius. Meskipun Batu dikenal sebagai penghasil apel, mayoritas penduduk justru hanya menjadi buruh tani apel. Singkatnya, mereka harus menjadi buruh di tanah sendiri.

Sebelum menjalani aktivitas kampanye, Nawang lebih banyak bergaul dengan pengusaha. Jabatannya sebagai manajer umum dan personalia di sebuah pabrik keramik di Kota Malang, Komisaris PT. Selecta, Batu, dan konsultan manajemen di sebuah pabrik jamur di Kota Batu, mengharuskannya bergaula dengan kalangan menengah ke atas. Bergaul dengan masyarakat di dusun-dusun terpencil di Kota Batu tidak pernah dilakukan. Namun, setelah melihat mengunjungi masyarakat pada momen pencalegan lalu, Nawang mengaku merasa melek realitas. Itu sebabnya, ia sempat mengajak sang anak untuk ikut bersosialisasi ke rumah-rumah warga. Tujuaannya agar sang anak tahu sendiri bagaimana keadaan riil masyarakat Batu.  

Nawang mengaku semakin termotivasi membuka lapangan pekerjaan setelah mendengar langsung suara masyarakat Kota Batu yang ia datangi. Nawang termotivasi untuk bekerjasama dengan jaringan investor yang ia kenal, termasuk dari Jakarta. Selama ini, para investor sulit masuk ke Kota Batu jika tidak punya teman yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu. Bersama investor, Nawang pernah berniat membuka tempat wisata. Sayangnya, usaha tersebut gagal karena Nawang tidak mempunyai jaringan di DPRD. 

Cita-cita Nawang seandainya terpilih sebagai anggota DPRD Kota Batu, adalah membuka lapangan pekerjaan. Salah satunya dengan membuat objek wisata yang berbasis alam. Ia juga berkomitmen membangun Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Batu. Namun sayang, Nawang tidak berhasil menjadi anggota legislatif. Maka, yang akan ia lakukan setelah ini, selain tetap menunaikan tugas sebagai manajer umum dan personalia, komisaris, dan konsultan, Nawang akan belajar menulis. Ia berniat untuk terus belajar menulis, setelah sekitar dua minggu lalu mendapat pelatihan jurnalistik di Sekolah Demokrasi. (Any Rufaidah, Malang)

Fransiskus Pascaries on Monday 04 May 2009 at 08:10 am

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.