Kekasih Pergi Saat Tugas Masih Menanti

Pernahkah anda membayangkan, kekasih hati meninggal dunia saat pekerjaan menumpuk? Itulah yang dialami alumna Sekolah Demokrasi yang kini aktif di Komite Komunitas Demokrasi Banyuasin (KKDB), Sumatera Selatan. Saat kesibukannya sebagai anggota Divisi Penyidikan dan Pelaporan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Banyuasin belum usai, Anilah Ishak SH harus kehilangan calon suaminya. Ia tak kuasa membendung kesedihan, saat calon suaminya meninggal 19 April lalu. Di sinilah profesionalitasnya sebagai anggota Panwaslu diuji.

Matahari sedikit condong ke barat, ketika saya pergi menuju Kantor Panwaslu  Kabupaten Banyuasin di Jalan Thalib Wali, Kelurahan Pangkalan Balai, Banyuasin. Tidak  seperti biasanya, kantor Panwaslu Banyuasin terlihat sepi. Hampir tidak terlihat aktivitas di kantor ini beberapa hari lalu. Sesampainya di sana, saya langsung masuk ke dalam ruangan kantor. Maklum, kantor  yang berukuran 14 meter x 12 meter ini sudah sering saya datangi. Terlebih, dua dari tiga anggota Panwaslu ini adalah alumni Sekolah Demokrasi Banyuasin yang sekarang  masih aktif di KKDB.

Satu hal yang begitu membekas di pikiran Anilah Ishak, adalah ketika pelaksanaan pemilu telah berlalu. Saat itu tanggal 19 April. Telepon berdering silih berganti di kantor itu, ketika pada saat yang sama ia tengah disibukkan dengan laporan pelanggaran demi pelanggaran pemilu yang singgah ke mejanya. Saat itu ia menerima telepon berisi kabar duka yang meninggalnya sang calon suami. Kabar itu kontan mengganggu pikirannya. Ia pun memutuskan untuk menengok jenazah sang calon suami. "Saya hampir pingsan, ketika melihat jasadnya terbaring kaku di hadapan saya," ungkapnya sambil menitikan air mata.

Berita duka ini tak urung membuat Anilah tidak bisa bekerja dengan maksimal. Ia sempat mengurung diri dan mematikan telepon genggamnya selama beberapa hari. "Saat itu saya panik, pikiran saya kacau. Saya merasa tidak bisa mengemban tugas dengan baik, saya memutuskan tidak masuk kerja selama beberapa hari dan mematikan telepon genggam," ujarnya. Ia berterimakasih kepada teman-temannya di Panwaslu yang memakluminya dan terus menghibur dirinya. "Teman-teman terus menghibur," katanya sambil tetap terisak.

Ia hanya bisa pasrah dan menerima apa kehendak Yang Maha Kuasa. "Jujur, dalam hati saya sangat sedih, tetapi sebagai manusia kita hanya bisa berharap. Allah SWT lah yang menentukan, mungkin dia bukan jodoh saya," ungkap Anilah yang sebelumnya berencana melangsungkan pernikahan seusai Pemilu 2009 ini.

Pekerja keras

Keberhasilan Anilah Ishak menjadi anggota Panwaslu Kabupaten Banyuasin tidak terlepas kerja keras dan usahanya. Menurut perempuan yang dilahirkan di Pangkalan Balai 16 Juli 1969 ini,  ia harus bersaing dengan ratusan peserta yang melamar jadi anggota Panwaslu. Meski ada isu permainan uang dalam proses seleksi itu, ia mengaku tidak gentar. Karena, menurutnya ia memang memiliki kemampuan. "Kalau kita memiliki kemampuan, mengapa harus takut dengan permainaan uang?" katanya.

Kiprah Anilah menjadi anggota Panwaslu ini, diakuinya tidak terlepas dari keikutsertaannya sebagai panitia penyelanggara Sekolah Demokrasi Banyuasin. "Menjadi penyelenggara Sekolah Demokrasi Banyuasin memberikan saya pengetahuan lebih dari peserta lainnya. Dulu dalam setiap pembelajaran saya selalu hadir dan memperhatikan dengan seksama materi-materi yang diajarkan oleh narasumber. Itu semua berguna bagi saya untuk menjawab semua soal yang diberikan petugas seleksi Panwaslu," ungkap mantan anggota Lembaga Bantuan Hukum LBH Palembang ini. Ia menambahkan, soal-soal dalam proses seleksi 80 persen di antaranya sama dengan materi yang diberikan dalam Sekolah Demokrasi.

Ia mengaku tidak ada satu hal pun yang membuatnya takut dalam menjalankan tugas sebagai anggota Panwaslu. Karena, ia selalu berusaha menjalankan semua tugas sesuati aturan-aturan yang berlaku. Anilah menambahkan, sebagai anggota Panwaslu, ia dituntut untuk tidak mudah menyerah dengan apa yang dihadapi, pun takut dengan ancaman dan teror dari orang yang tidak bertanggug jawab. "Apa pun yang terjadi, entah itu ada demo, teror, kita tetap harus bekerja dengan baik sesuai dengan tugas kita," ungkap perempuan yang  tidak pernah sekalipun mematikan telepon genggamnya selama menjadi anggota Panwaslu, selain setelah calon suaminya meninggal dunia.

Meski demikian, Anilah juga mengalami hal-hal menyenangkan selama menjadi anggota Panwaslu ini. Ia mendapatkan banyak teman, bertemu dengan teman-teman lamanya yang sekarang sudah menjadi pejabat atau mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Anilah membuktikan, kesedihan tak menjadi alasan untuk melalaikan tugas negara.  (Arman, Banyuasin)

aries on Thursday 30 April 2009 at 11:31 am

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.