Memilih Tetangga Menjadi Anggota Dewan
Dengan harapan aspirasi mereka bisa terwakili di lembaga perwakilan, warga Desa Sumber Brantas, Kecamatan Batu, Kota Batu, Malang, Jawa Timur kompak memilih caleg dari partai baru untuk duduk di kursi dewan. Alhasil, penghitungan suara terakhir menunjukkan sang caleg berhasil duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu. Menurut anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Batu Bagyo Prasasti Prasetyo, Hely Suyanto (33) dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dipastikan meraih satu kursi di DPRD Kota Batu periode 2009-2014.
Kamis, 23 April siang saya beranjak dari rumah saya di Jalan Soekarno-Hatta. Tujuan saya adalah Desa Sumber Brantas, Kecamatan Batu, Kota Batu. Dengan sepeda motor, saya memerlukan waktu kurang lebih 90 menit untuk sampai di Desa Sumber Brantas. Kalau dengan angkutan umum, waktu yang dibutuhkan bisa sampai dua setengah jam.
Sumber Brantas adalah desa yang baru berusia tiga tahun. Sebelum diresmikan tahun 2006, desa ini masuk dalam wilayah Desa Tulungrejo. Kepala Desa Sumber Brantas pun baru dipilih pada bulan April 2008. Di sisi barat, desa ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Penduduk desa ini berjumlah 4.068 jiwa, yang tersebar di tiga dusun: Dusun Lemah Putih, Dusun Krajan, dan Dusun Jurang Kuali. Umumnya mereka bekerja sebagai petani wortel, kentang, kubis, dan sawi. Dalam perjalanan pulang, saya juga melihat bawang bombai. Hasil bumi tersebut juga dikirim ke luar Jawa, seperti Samarinda dan Balikpapan.
Di pemilu legislatif 9 April 2009 lalu, mayoritas masyarakat Sumber Brantas kompak memilih Hely Suyanto yang berasal dari desa mereka sendiri. Dari daftar pemilih tetap, tercatat ada 3.090 warga. Dari angka itu, 2.557 di antaranya hadir di TPS dan menggunakan hak pilih. Hely pun akhirnya berhasil mendulang 1.107 suara, sehingga berhasil mendapatkan satu kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu.
Di antara warga Sumber Brantas yang memilih Hely adalah Jumari (29) dan Suyanto (41). Mereka membenarkan, banyak warga Sumber Brantas mendukung caleg yang sama. Di desa itu terdapat sepuluh TPS. Rata-rata perolehan suara sang caleg di tiap TPS adalah seratus suara. Jumari dan Suyanto mengaku memilih Hely Suyanto, yang dianggap cukup berkualitas, mudah bergaul, dan aktif di organisasi di tingkat desa. Mereka mengaku tidak mempermasalahkan Partai Hanura adalah parpol baru.
Demikian pula bagi warga Sumber Brantas yang lain. Dalam pemilihan wali kota dan pemilihan gubernur, masyarakat Sumber Brantas selalu mementingkan kualitas figur, bukan parpol. Pada pemilihan Wali Kota Batu, menurut cerita Suyanto, sebelumnya suara warga Sumber Brantas tertuju pada calon tertentu, tetapi begitu tahu sang calon tidak memenuhi sebuah janji, warga Sumber Brantas kontan mengalihkan suara pada Wali Kota yang menjabat sekarang ini, Edy Rumpoko.
Suyanto menambahkan, warga Sumber Brantas tidak mengenal fanatisme terhadap parpol tertentu. Hal tersebut berlaku pula pada setiap anggota tim sukses caleg atau tim sukses parpol. Jika sang calon wakil rakyat dinilai tidak baik, tim sukses tidak akan menganjurkan warga untuk memilih sang calon. Tim sukses itu justru menganjurkan warga untuk memilih calon yang berbeda. Anggota tim sukses menilai, nasib warga Sumber Brantas jauh lebih penting dibanding insentif mereka yang tak seberapa besar.
Selain caleg yang dipilih Jumari dan Suyanto, ada dua caleg lain yang berasal dari Sumber Brantas. Tetapi mereka tidak menjadi pilihan warga. Menurut Suyanto, dua caleg tersebut kurang tepat menjadi figur publik. Salah satu dari caleg yang tak terpilih kurang bisa bergaul dengan masyarakat. "Papasan saja nggak pernah menyapa, mengapa dipilih?" ujar Suyanto. Sementara caleg yang satunya masih terlalu muda untuk menjadi wakil rakyat.
"Siapa yang baik, itu yang dipilih" adalah alasan umum. Tetapi bukan itu saja yang menjadi alasan warga Sumber Brantas. Jumari dan Suyanto mengaku memilih sang caleg karena keinginan mempunyai wakil rakyat yang lebih aspiratif. Selama ini, Jumari dan Suyanto merasakan harapannya belum cukup terwakili oleh caleg yang duduk di DPRD Kota Batu. Jika punya wakil dari desa sendiri, menurut Jumari, suara warga lebih bisa didengar. Selain itu, warga juga akan lebih mudah mendapatkan akses ke pemerintah. Informasi tentang adanya proyek pembangunan, misalnya, akan lebih cepat sampai ke warga Sumber Brantas jika ada caleg dari Sumber Brantas sendiri. "Kalau ada caleg dari desa sendiri, minimal kita bisa mengawal," tutur Jumari dengan nada berharap.
Suara Jumari dan Suyanto dibenarkan oleh Kepala Dusun Lemah Putih, Suwito (41). Menurut Suwito, masyarakat Sumber Brantas memang ingin lebih diwakili. Di pengajian-pengajian warga, Suwito kerap mendengar bahwa warga Dusun Lemah Putih ingin sekali mempunyai wakil rakyat yang lebih aspiratif. Ia menambahkan, kalau wakil rakyat berasal dari desa lain, setelah kemauan sang caleg terpenuhi, warga Sumber Brantas 'ditinggal', alias tidak diperhatikan. "Setelah jadi, warga tidak diperhatikan," ujar Suwito. Itu yang dirasakan Suwito selama ini. Oleh sebab itu, ia dan warga lainnya memilih caleg yang berasal dari kampung mereka sendiri.
Siang sudah bergeser. Kabut pun mulai menyelimuti Desa Sumber Brantas. Saya putuskan untuk segera pulang, agar tak terjebak dalam gelapnya kabut senja. Rumah Suwito adalah rumah terakhir yang saya kunjungi. Istri Suwito pun segera membungkuskan kentang rebus yang sebelumnya telah disuguhkan pada saya. Saya lantas berpikir, Desa Sumber Brantas akan segera memiliki wakil rakyat dari kampung mereka sendiri. Akankah suara mereka benar-benar terwakili? (Any Rufaidah, Malang)








