Rosania: Saya Dikalahkan oleh Uang

Kancah politik Indonesia masih sulit melepaskan diri dari politik uang. Seorang caleg yang bersih belum tentu bisa diterima oleh masyarakat pemilih. Praktik politik uang berlangsung secara terbuka. Hal ini dikisahkan alumna Sekolah Demokrasi angkatan pertama, Syahrotsa Rahmania (40) calon anggota DPRD Kota Malang, dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk daerah pemilihan 4 Kota Malang yang meliputi Kecamatan Blimbing, saat ditemui di kediamannya, 23 April 2009 lalu.

Kalah menang dalam setiap kompetisi memang sudah biasa. Namun kalah dalam pencalonan anggota legislatif tentu akan berbeda ceritanya. Banyak konsekuensi yang harus ditanggung oleh seorang caleg yang kalah dalam pemilu. Sebut saja, pengorbanan harta, tenaga maupun beban psikologis, yang bukan tidak mungkin akan berdampak pada kelanjutan hidup mereka yang kalah. Seperti banyak diberitakan di media, telah banyak caleg kalah yang terkena depresi, bahkan sebagian dari mereka melakukan aksi bunuh diri.  

Kegagalan Syahrotsa Rahmania -biasa disapa Rosania- dalam meraih kursi dewan pada pemilu kemarin, agaknya disikapi cukup santai, meski ia juga mengaku kecewa, gemas sekaligus kesal. Saat saya temui, ia tengah menemani kedua putrinya yang duduk di bangku Sekolah Dasar mengerjakan tugas keterampilan dari sekolahnya. Di tengah kesibukannya, ia menyempatkan diri untuk mendampingi kedua putrinya belajar. Mengenakan gamis dengan dominasi warna merah dipandu dengan jilbab dengan hiasan bordiran warna merah, Rosania menceritakan pengalamannya 'bertarung' dalam pemilu legislatif lalu.

Satu hal yang paling membekas dalam hatinya adalah usaha yang dilakukan berbulan-bulan secara optimal untuk menggalang dukungan dari masyarakat dengan cara bersih, dikalahkan dalam waktu dua hari.  Ia mengaku kecewa, gemas sekaligus kesal dengan apa yang dilakukan sejumlah caleg lain yang memilih cara kampanye yang tidak fair dalam merebut dukungan pemilih. "Saya prihatin dengan politisi yang berkampanye dengan cara  melakukan money politic atau menyuap rakyat. Ini mencederai demokrasi,"  kata mantan penyiar radio ini.

Sambil terus sibuk menggunting kertas warna untuk kedua putrinya, Rosania juga mengaku heran dengan perilaku masyarkat sekarang yang sangat transaksional dalam menggunakan hak pilihnya dalam pemilu.  Masyarakat dengan mudahnya tergiur dengan tawaran uang, beras, atau pemberian caleg lainnya. Menurut Rosania, modal sosial tidaklah cukup untuk menarik minat masyarakat, karena hampir semua pemilih mengukur dengan materi yang mereka dapatkan dari para caleg. Di TPS di mana dia terdaftar, bahkan Rosania hanya mendapatkan 40 suara, jauh dari yang ia bayangkan sebelumnya. Ternyata, keakrabannya dengan tetangga atau teman tidak menjamin perolehan suara yang signifikan. Secara keseluruhan di Daerah Pemilihan 4 di mana ia terdaftar ia mendapat 485 suara, padahal untuk mendapatkan satu kursi DPRD Kota Malang diperlukan 8500 suara.

Secangkir teh dihidangkannya untuk saya, di meja kaca yang berhias taplak dengan motif kembang- kembang. Ia lantas coba mencari tahu, mengapa perolehan suaranya dalam pemilu legislatif 9 April lalu tidak menggembirakan. Apa yang ia duga sebelumnya terbukti benar. Praktik politik uanglah yang menjadi penyebab kekalahannya dalam pemilu tempo hari. Sejumlah warga mengaku telah menerima uang dari tim sukses sejumlah caleg sehari sebelum pelaksanaan pemilu.

Ia mengaku, persiapannya menyongsong pemilu kali ini cukup maksimal. Sejak namanya ditetapkan dalam Daftar Calon Tetap (DCT) Desember 2008, Rosania langsung bekerja all out untuk menggalang dukungan melalui berbagai macam pertemuan dengan konstituen. Hampir setiap hari ia mengikuti pertemuan Majelis Ta'lim, tahlilan dengan ibu muslimat, atau pertemuan-pertemuan kegiatan sosial lainnya di daerah pemilihannya. Tidak kurang ia menggelar 61 kali pertemuan dengan ibu-ibu dari Majelis Ta'lim dan lebih dari 25 kali pertemuan dengan beberapa tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Dengan intensitas pertemuan yang cukup padat itu, tidak kurang Rosania harus mengeluarkan Rp.35 juta untuk membiayai kampanyenya.

Ia juga melakukan kampanye door to door beberapa hari menjelang pelaksanaan pemilu. Namun, ia menyadari upaya yang dilakukannya kalah dengan 'serangan fajar' politik uang yang dilakukan tim sukses caleg dengan dana kampanye yang lebih tinggi.

Atas semua yang dialaminya itu Rosania mengambil sebagai sebuah pengalaman yang baik dalam praktik berdemokrasi, meskipun dari apa yang didapatkan tidaklah menggembirakan untuk sebuah pembelajaran demokrasi. Masih banyak manipulasi informasi dari para politisi yang sengaja menipu masyarakat dengan  uang. "Apa yang saya praktikkan dengan cara kampanye bersih dari money politics tidak cukup diterima oleh pemilih," ujar Rosania yang mengaku mendapat dukungan maksimal dari sang suami, Mahmudi.

Ia mengaku beruntung, lantaran kedua anaknya yang kerap ia tinggal untuk berkampanye cukup memahami kegiatan ia dan sang suami. Nadiya dan Faradillah -kedua putri Rosania- kerap dititipkan di rumah salah satu kerabat, selama dirinay sibuk berkampanye. Kini semua kesibukan terkait pemilu sudah usai. Kebersamaan mereka dalam keluarga sudah kembali seperti biasa. Rosania kini akan meneruskan profesinya sebagai dosen kepenyiaran di Universitas Merdeka Malang, guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Al Amin Malang, dan public speaking trainer di beberapa LSM di kota itu. Sebagai seorang ibu, ia juga masih memiliki cukup banyak waktu untuk menemani Nadiya dan Faradillah belajar, merajut cita-cita demi masa depan yang cerah. (Alim Mustofa, Malang)

aries on Monday 27 April 2009 at 07:10 am

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.