Gebrakan Meja Demi Sebuah Kursi Dewan
Proses berdemokrasi di Indonesia masih memerlukan pendewasaan. Bagi sebagian politisi, mendapatkan jabatan publik masih dimaknai sebatas mendapat kursi kekuasaan. Maka, tentu tak mengherankan ketika apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan kekuasaan, termasuk dengan cara-cara intimidatif. Akan berbeda, jika kekuasaan yang didapat bisa dimaknai sebagai jalan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat sebagai konstituen.
Mukiyar (38) dan sang istri Yuliana (30) warga Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Malang Jawa Timur, hanya sedikit dari entah berapa banyak warga Indonesia yang mengalami intimidasi itu.
Wajah Mukiyar (38) terlihat lusuh saat ditemui di rumahnya, Selasa, 21 April lalu. Keletihan tergambar jelas di wajah bapak dua putri ini. Bagaimana tidak, ia baru saja kembali dari Pasar Karangploso menjalani kesehariannya sebagai buruh. Saat saya temui, ia baru mengangkut satu mobil pick-up berisi wortel dari daerah Pujon, salah satu kecamatan di Kabupaten Malang. Begitulah, setiap hari Muikiyar terbiasa untuk bergelut dengan aneka sayur mayur, seperti wortel dan lainnya. Rata-rata pukul sembilan pagi setiap hari Mukiyar bersama juragan dan seorang mitra kerja mengambil sayur-sayuran untuk kemudian diantar ke sejumlah langganan dan juga Pasar Karangploso. Tugas pokoknya adalah mengangkut karung-karung berisi sayuran. Dari pekerjaannya itu, Mukiyar mendapat upah bersih sebesar Rp.20 ribu per harinya.
Siang itu, Mukiyar tak punya banyak waktu. Ia hanya menjemput sang istri, Yuliana, untuk diajak serta ke perempatan Desa Pesanggrahan, seperti yang dilakukan setiap hari di sela-sela kerja. Yuli, begitu istri Mukiyar biasa dipanggil, bekerja di sebuah pabrik plastik kecil di Jalan Flamboyan, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu. Dari perempatan Pesanggarahan, Yuli berjalan ke tempat kerja. Waktu yang ia butuhkan bisa mencapai 45 menit. Sebenarnya ada angkot jurusan Jalan Flamboyan, tetapi tanggung menurut Yuli, karena jarak tempat angkot berhenti ke tempat kerja cukup jauh. Untunglah, siang itu Mukiyar bisa meluangkan waktu 10 menit untuk saya ajak berbincang.
Saya tertarik untuk mengajak mereka berbincang, karena mereka mengalami sendiri intimidasi dari tim sukses salah seorang calon anggota legislatif, sekitar dua pekan sebelum pemilu legislatif digelar 9 April 2009 lalu. Saat itu, Mukiyar dan Yuli didatangi tiga perempuan yang menjadi utusan seorang caleg salah satu partai dari di Daerah Pemilihan Kecamatan Batu. Keluarga Mukiyar hanya salah satu yang didatangi, karena praktis hampir semua rumah warga Desa Sumberejo didatangi tiga perempuan itu.
Menurut keterangan Yuli, caleg yang sama juga menurunkan anggota tim suksesnya untuk mendatangi sejumlah warga di dua dusun lain di Desa Sumberejo, yaitu Dusun Sumbersari dan Dusun Santrean. Ketiga perempuan yang mendatangi sejumlah warga Desa Sumberejo datang untuk menggalang dukungan suara salah satu caleg DPRD Kota Batu, untuk daerah pemilihan Kecamatan Kota Batu. Caleg yang mereka dukung adalah istri Kepala Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. Seperti warga lainnya yang didatangi, Mukiyar dan Yuli diminta menandatangani surat pernyataan yang menjadi bukti dukungan kepada sang caleg. Hal ini kontan ditolak oleh Mukiyar. "Saya rasa itu nggak perlu. Nggak zamannya lagi!" tutur Mukiyar saat itu.
Mukiyar sudah menolak berkali-kali, dan berkali-kali pula tiga perempuan itu terus memaksanya untuk membubuhkan tandatangan. Suasana pun menegang, saat salah satu dari tiga perempuan itu menggebrak meja di rumah Mukiyar dan Yuli. "Kamu kalau butuh apa-apa, mau ke mana?" begitu Yuli menirukan perkataan salah satu dari tiga perempuan itu.
Mendengar ucapan tiga anggota tim sukses itu, kemarahan Mukiyar memuncak. Ia mempersilakan mereka melingkari namanya. Mukiyar mengaku tidak merasakan sedikit pun rasa takut. Yuli yang merasa tidak enak melihat suasana tegang itu -apalagi tiga orang perempuan yang datang itu adalah teman-temannya di organisasi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Sumberejo. Akhirnya, Yuli segera menulis nama dan bertanda tangan di kertas yang disediakan Tim Sukses. Tetapi, memberi tanda tangan bukan berarti mendukung caleg yang mengutus Tim Sukses yang datang ke rumahnya.
Hal senada juga dikatakan Sukendri, warga Desa Sumberejo. Menurut ceritanya, tim sukses caleg yang sama secara terbuka mengintimidasi warga. Mereka mengancam, jika warga tidak memberikan dukungan dalam pemilu, semua pengurusan administrasi di kantor desa akan dipersulit. Ternyata, ancaman itu bisa membuat warga ketakutan. Buktinya, menurut Sukendri, si caleg menang mutlak di Dusun Sumbersari dan Dusun Santrean. (Any Rufaidah, Malang)








