Pengobatan Berbekal Keikhlasan ala Suku Anak Dalam

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa ketulusan sudah menjadi barang langka bagi para pemimpin dan calon pemimpin di negeri ini. Sejumlah calon anggota legislatif yang kalah dalam pemilu tanpa malu menarik kembali sumbangan yang telah mereka berikan dalam masa kampanye pemilu. Barangkali, para pemimpin dan calon pemimpin kita bisa belajar dari warga suku Anak Dalam, di Desa Petaling, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Dengan penasaran, saya yang kali ini ditemani seorang teman, berangkat menuju Desa Petaling untuk kembali menemui Herman. Besar harapan, kami bisa bertemu dan memperoleh keterangan tambahan dari Ketua Kelompok suku Anak Dalam itu. Maklum, cerita kami kemarin terputus karena Herman harus melayani tamu yang ingin berobat. Tepat jam satu siang beberapa hari lalu saya tiba di perkemahan suku ini di Desa Petaling. Saya langsung menuju kediaman Herman. Kali ini saya tidak beruntung, karena Herman tengah pergi mengobati pasien di desa Regan Agung  "Perginya dari pagi, mungkin sebentar lagi pulang, tunggu saja," ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan kami.

Dengan perasaan sedikit kecewa saya beralih ke rumah warga Desa Petaling yang lain. Saya akhirnnya menemui Ajib (33), seorang suku Anak Dalam. Ia menyapa ramah dan mempersilakan kami masuk. Kepada saya, Ajib mengatakan bahwa Herman tengah mengobati orang lumpuh di desa tetangga. Menurut cerita Ajib, Herman menggunakan ramuan dari akar, daun, dan kulit pohon serta tumbuhan yang mereka dapat dari hutan.    

Dengan uang dari hasil pengobatan itulah mereka bertahan hidup. Mereka mengaku tidak memiliki keahlian lain untuk mencari nafkah, selain mengobati  orang. Mereka mengaku tidak tahu, sampai kapan bisa bertahan hidup dengan cara mengobati orang, karena hanya itulah kemampuan yang mereka miliki. "Kami tidak mempunyai keahlian lain untuk mendapatkan  uang. Kalau mereka (para pasien) membutuhkan pengobatan kami, berarti dapur kami masih mengepul, tetapi kalau mereka tidak membutuhkan lagi, kami mau makan apa?" ungkap Ajib seraya menerawang.

Ajib pun menyadari, suatu saat metode pengobatan tradisional yang mereka gunakan tidak akan laku dan ditinggalkan orang, yang beralih ke pengobatan moderen. Dengan pengobatan moderen, menurut Ajib, obatnya lebih mudah dicari bandingkan dengan kami yang harus mencari obat dihutan.

Kami masih asyik berbincang dengan Ajib saat Herman pulang dari desa tetangga. Herman pun bergabung dalam pembicaraan kami. Ia lantas bercerita perihal praktik pengobatan tradisional yang ia jalani. Mengenai biaya pengobatan, ia mengaku mengenakan biaya antara Rp.200 ribu hingga Rp.500 ribu untuk penyakit ringan, dan Rp.1,5 juta untuk penyakit yang berat. Menurut Herman, pasien yang berobat bisa membayar setelah penyakitnya sudah berkurang 50 persen. "Kalau sakitnya lumpuh, misalnya, kita akan minta (bayaran) apabila orangnya sudah bisa berdiri," ungkap Ajib.

Di atas itu semua, warga Anak Dalam juga tidak akan meminta bayaran jika orang yang mereka bantu sungguh-sungguh tidak mampu membayar. Pasien itu tetap akan diobati. "Kalau ada yang ingin berobat, tetapi tidak punya uang, tidak usah takut datang pada kami. Mereka tetap akan kami obati sampai sembuh, biarpun tidak bayar. Asalkan memang mereka betul-betul orang tidak punya," imbuh Herman.

Kami kembali berbincang soal pemilu. Dalam tulisan terdahulu, sudah saya gambarkan, bagaimana warga suku Anak Dalam amat tidak memahami soal pemilu, apalagi dengan istilah 'mencontreng'. Saya pun harus memberikan sedikit penjelasan, karena Ajib terlihat masih sangat bingung.  

Kali ini Herman juga bercerita bahwa beberapa tahun lalu mereka pernah dikeluarkan dari hutan oleh Pemerintah Lubuklinggau. Program itu coba untuk mendidik mereka, memberikan mereka rumah dan memberi pelatihan agar bisa bertahan hidup di luar hutan. Tetapi program itu tidak berjalan lama, karena dihentikan sebelum mereka menguasai. Mereka kembali ke hutan dan berburu  lagi. Tetapi akhir-akhir ini mereka menyadari, dunia makin berkembang dan banyak perusahaan besar membuat perkebunan dengan membabat hutan. Lokasi buruan mereka pun berkurang, binatang-binatang banyak yang mati, sehingga warga Anak Dalam kesulitan mendapatkan buruan. Situasi ini memicu mereka untuk keluar dari hutan untuk mencari penghidupan. Mereka berharap pemimpin terpilih pada pemilu 2009 -yang mereka sebut sebagai kepala suku- bisa memperhatikan mereka dan kembali meneruskan program pendidikan bagi suku Anak Dalam seperti yang dilakukan oleh pemerintah Lubuklinggau. "Kami ingin anak-anak kami bisa jadi reporter pemilu, bisa menulis, membaca dan sekolah seperti anak di desa ini. Tetapi bagaimana caranya, tolong sampaikan pada kepala suku, kenginan kami ini," ujar Ajib. Menurutnya, dengan bersekolah anak-anak mereka akan menjadi pintar dan bisa mencari pekerjaan dan makan dan tidak lagi bergantung kepada hutan seperti orang tua mereka saat ini.

Hari telah sore, saya pun berpamitan. Dalam perjalanan saya berpikir, sungguh besar perhatian kepala suku Anak Dalam, meski hanya lewat alam mimpi mereka. Apa yang sudah menjadi niat dan tengah dilakukan Herman dan Ajib sungguh mulia: menginginkan anak-anak memperoleh pendidikan dan juga menolong orang sakit yang tidak mampu. Akankah pemerintah terpilih 2009 akan benar-benar memperhatikan  nasib rakyat Indonesia, berpikir mulia seperti Herman dan Ajib, ikhlas untuk memperjuangkan pendidikan dan nasib anak-anaknya? Melatih mereka untuk bisa hidup di luar hutan?Atau sama dengan nasib suku Anak Dalam (Kubu) yang dikeluarkan dari hutan, tidak diperhatikan dan disia-siakan ? Selesai (Arman, Banyuasin)

Fransiskus Pascaries on Thursday 23 April 2009 at 07:59 am

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.