Suku Anak Dalam: Sekolahkan Anak Kami !
Hingar-bingar pemilu sangat terasa di kota-kota besar. Selama musim kampanye, spanduk, bendera-bendera partai politik, stiker, tampak di mana-mana. Setelah hari pencontrengan usai, isu bergeser ke rencana koalisi antar parpol, terutama di tingkat nasional menyambut Pemilihan Presiden. Tetapi faktanya, rakyat Indonesia tidak hanya yang berada di wilayah perkotaan, melainkan juga di wilayah yang cukup terisolir secara geografis, seperti Suku Anak Dalam di Desa Petaling, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Bagaimana pun, suara mereka tetap harus didengarkan para pemimpin.
Hari belum terlalu siang, ketika saya berangkat menuju Desa Petaling yang terletak di ujung utara Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin dan berjarak sekitar sepuluh kilometer dari Pangkalan Balai, ibukota kabupaten. Tidak teramat sulit untuk sampai ke Desa Petaling. Ada dua jalur yang bisa ditempuh, dengan jalan yang relatif mulus di dua jalur ini. Dengan memakai kendaraan pribadi, kita akan sampai dalam waktu 25 menit, atau dengan mengunakan jasa tukang ojek dengan ongkos Rp.10 ribu. Mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani karet. Keramahan dan sikap yang bersahabat dari warganya yang bisa menerima tamu dengan baik, menarik suku Anak Dalam untuk singgah didesa itu.
Pemilu legislatif telah digelar, dan penghitungan suara masih berjalan. Tetapi, bagaimana sebenarnya partisipasi dari enam kepala keluarga dan 24 anggota suku Anak Dalam di ajang lima tahunan itu? Beberapa hari lalu, saya berhasil menemui Kepala Kelompok suku Anak Dalam, Herman (40).
Mata Herman seolah tak berkedip menatap saya yang datang bersama Suhardi, Kepala Desa Petaling. Ia menatap tajam ke arah kami yang datang. Hati saya berdegup cukup kencang karena ciut. Maklum, kehebatan ilmu suku Anak Dalam sudah dikenal luas masyarakat, sekurangnya di Banyuasin. Namun setelah diberi penjelasan oleh Suhardi, ia lantas tersenyum ramah pada saya. "Selamat datang di tempat kami," ucapnya dengan nada bersahabat.
Kami mulai terlibat dalam obrolan dengan Herman, yang bercerita soal kebiasaan hidup nomaden mereka. Menurut ceritanya, ia hanya tinggal sementara di tempat itu, sambil menunggu perintah dari Kepala Suku. "Kalau Kepala Suku mengizinkan kami tinggal lama di sini, kami akan tinggal di sini lama. Tetapi kalau Kepala Suku memerintahkan kami untuk pindah, kami akan pergi ke tempat yang diperintahkan," ungkap Herman. Suku Anak Dalam memang memegang tradisi dengan sangat kuat, dan sangat patuh kepada Kepala Sukunya. Sehingga apapun yang diperintahkan Kepala Suku akan mereka turuti.
Kepada kami, Herman menceritakan bahwa dirinya sebagai Ketua Kelompok tunduk di bawah seorang Ketua Suku. Ia juga menjelaskan, meski jauh mereka tetap diperhatikan oleh Sang Kepala Suku yang biasa menemui dan memberikan petunjuk padanya lewat mimpi. Sebelum tinggal di Desa Petaling, selama dua minggu mereka tinggal di Desa Air Senggris Kecamatan Betung. Lewat mimpi, sang Kepala Suku memerintahkan mereka pindah ke Desa Petaling.
Perlahan namun pasti, kini suku Anak Dalam mulai merambah daerah perkotaan. Hal itu terjadi karena sudah sangat sulit bagi suku itu untuk mendapatkan makanan yang bisa mereka konsumsi. "Kami juga ingin mencari pengalaman. Kalau hutan habis, kami sudah mempunyai pengalaman mencari rezeki di kota," ungkap Herman. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam perantauan -begitu mereka menyebutnya- Herman dan keluarganya mengobati orang yang membutuhkan jasa mereka. Biasanya Herman menggunakan akar-akar tumbuhan untuk mengobati para pasiennya. Kehidupan mereka sangat sederhana. Mereka tinggal di rumah beratapkan daun yang tidak berdinding. Meski demikian, mereka mengaku sangat bahagia.
Soal Pemilu
Mengenai pemilu, Herman mengaku tidak mengerti. Bahkan ia malah balik bertanya tentang istilah yang mereka masih anggap asing, seperti 'mencontreng'. Namun, setelah dijelaskan oleh Suhardi, Herman hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil berkata, "Yang kami tahu, Kepala Suku dipilih secara turun-temurun. Kalau kami diikutsertakan dalam pemilu, tentu kami senang sekali," ungkapnya masih agak bingung.
Suku Anak Dalam tinggal di pedalaman hutan di Sumatra Selatan dan Jambi. Tetapi kerena hutan mereka terus dirambah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, hutan mereka berangsur berkurang. Dengan berkurangnya luas hutan, mereka akan sangat sulit mencari makan di hutan. Herman dan warga Suku Anak Dalam lainnya berharap, hutan mereka tidak terus-menerus ditebang, agar mereka tetap bisa mencari makan di dalam hutan.
Ditambahkan Herman, saat ini banyak teman-teman mereka yang pergi meninggalkan hutan karena hasil hutan mereka telah berkurang. "Bukan saya dan rombongan saja yang pergi merantau, tetapi banyak teman dan rombongan yang lain pergi merantau ke daerah lain sesuai dengan petunjuk Kepala Suku," ungkapnya menerawang.
Herman dan warga suku Anak Dalam lainnya berharap, tidak hanya Kepala Suku kami yang peduli pada nasib mereka, melainkan juga para pemimpin yang terpilih dalam pemilu. "Kami ingin anak-anak kami nantinya bisa belajar (sekolah) seperti anak di desa ini," tambah Herman. Pembicaraan kami terhenti, Herman kedatangan tamu yang ingin berobat. Sebelum pergi ia berkata "Saya pergi dulu, karena ada orang yang ingin berobat. Lain hari, kita ngobrol lagi. Masih banyak yang ingin saya sampaikan," katanya sambil melangkah pergi. Bersambung. (Arman, Banyuasin)








