Banyuasin: Menghilangnya Anggota PPK Rantau Bayur

Masa penghitungan suara dalam pemilu biasanya menjadi saat di mana anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) berjibaku melawan rasa penat. Namun, pasca pengumuman hasil rekapitulasi suara, lima anggota PPK di Kecamatan Rantau Bayur sontak menghilang. Keberadaan mereka menjadi pertanyaan sejumlah kalangan di sana.

Pasca pengumunan hasil perekapan suara kelima orang penyelenggara pemilu legislatif tersebut menghilang begitu saja bak ditelan bumi. Kontan hal ini menyebabkan dugaan adanya penggelembungan suara, yang menguntungkan parpol tertentu. Akibatnya sampai saat ini kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Banyuasin tak pernah sepi dari massa yang meminta pertanggungjawaban atas dugaan itu.

Adalah Tanto (40), salah seorang saksi Partai PNBK Kabupaten Banyuasin. Ia menyayangkan tindakan para personil PPK Rantau Bayur itu. Tanto yakin, di balik keberanian PPK Rantau Bayur itu, ada kekuatan yang mengelilingi mereka. "Rasanya sulit kita membayangkan bahwa ribuan suara caleg, amblas setelah perekapan suara di PPK Rantau Bayur. Kemanakah suara itu, kalau bukan diberikan pada caleg yang mereka jagokan," kata Tanto.

Beberapa hari ini puluhan massa dari sejumlah partai politik di Rantau Bayur selalu mendatangi kantor KPUD Banyuasin, yang hingga saat ini masih melakukan perekapan suara dari PPK yang ada di Kabupaten Banyuasin. Kontan pelaksana pemilu itu menjadi keteteran, sebab tidak bisa dipungkiri bahwa merekalah pihak yang disebut banyak pihak mengetahui keberadaan anggota PPK yang menghilang itu. Massa menuntut dilakukannya penghitungan ulang terhadap PPK Rantau Bayur yang disinyalir bermasalah itu.

Hal yang sama juga terlihat di Panwaslu Kabupaten Banyuasin, sebagai lembaga pengawas yang berwenang untuk mengawasi semua tahapan pemilu legislatif di Kabupaten Banyuasin. Namun, lembaga ini pun tampak tidak berdaya menghadapi tudingan yang diberikan pada mereka terkait indikasi pengelembungan suara itu. Ralan Ansori (35), warga Desa Rantau Bayur Kecamatan Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin, mempertanyakan kinerja Panwaslu Banyuasin, Panwascam Rantau Bayur, sehingga akhirnya mereka harus kehilangan suara dalam jumlah besar. Menurutnya, transparansi merupakan salah satu nilai dasar dalam demokrasi. Jika salah satu nilai demokrasi ini dilanggar dan tak diperhatikan lagi, maka sulit rasanya akan terpilih wakil-wakil rakyat yang memang benar-benar pilihan rakyat.

Sebagaimana masyarakat pemilih pada umumnya, masyarakat Rantau Bayur juga menginginkan agar pasca pelaksanaan pemilu legislatif bisa terwujud suasana kondusif, sehingga mereka bisa merasa aman dan nyaman dalam mencari nafkah guna mencari sesuap nasi untuk mempertahankan hidup. Abdul Rauf (45), seorang petani karet di Desa Lebung Kecamatan Rantau Bayur mengatakan, sebelum pelaksanaan pemilu legislatif mereka sudah disibukkan dengan kampanye caleg yang banyak menjual janji. Kini -pasca pemilu legislatif- mereka disibukkan dengan aksi protes para caleg yang kurang puas atas hasil suara meraka. "Kami selaku warga sebenarnya tidak ada urusan dengan perekapan suara ini. Tetapi yang menjadi soal adalah orang-orang pilihan kami untuk duduk di DPRD Banyuasin suaranya hilang. Itu yang membuat kami kesal," katanya. (Prana Susiko, Banyuasin)

aries on Wednesday 22 April 2009 at 09:13 am

One comment

suatu perbuatan yg tak bertangung jwb dan akibatnya akan menciderai proses demokrasi di banyuasin.
bravo panwaslu banyu asin.

fahrul rozie (Email) - 29-04-’09 15:31
Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.