Pulang Larut Malam Demi Pemilu

Kesibukan mengurusi pemilu menyita waktu mereka yang terlibat dalam 'ritual' lima tahunan ini. Tidak terkecuali anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang menjadi salah satu tulang punggung  KPU dalam pelaksanaan pemilu. Hal ini dialami S.Waryu Santoso, anggota PPK Kecamatan Blimbing Kota Malang, yang selama menjadi panitia pemilihan kerap pulang larut malam.

Suasana cukup panas ketika saya masuk ke sebuah ruangan di mana ratusan orang tengah mengikuti rekapitulasi penghitungan suara hasil pemilu. Wajah letih, tegang, dengan keringat dingin mengucur di setiap dahi para saksi sudah menjadi pemandangan yang  akrab mengiringi suasana di aula Kecamatan Blimbing. Di barisan depan ruangan, berjejer anggota PPK didampingi anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang bersangkutan, memimpin proses penghitungan suara DPRD Kota Malang. Mereka memeriksa keabsahan surat suara, dengan sesekali diselingi interupsi dari saksi perwakilan parpol.

Di tengah ketegangan suasana penghitungan suara di ruangan aula cukup panas itu, mata saya tertuju pada salah satu anggota PPK bidang Rekapitulasi Suara dan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Dengan enteng Wahyu mengatakan, menjadi anggota PPK sangat melelahkan. Sejak jadi anggota PPK Kecamatan Blimbing ia mengaku jam istirahatnya berkurang. "Apalagi sekarang banyak partai yang gencar menyoroti persoalan DPT. Hampir setiap hari saya pulang paling cepat jam.12.00 tengah malam, bahkan ada kalanya sampai pukul dua dini hari. Kontan saya cuma punya waktu tidur dua sampai empat jam setiap harinya," tutur Wahyu.

Wahyu menambahkan, hal paling rumit dan melelahkan yang ia kerjakan adalah saat ia mulai mengawal pemutakhiran data untuk penyusunan DPS sampai DPT. Meski mengaku sudah mengarahkan petugas pemutakhiran data, mendekati pemilu masih saja banyak data yang tidak valid. Hal itu kontan menuai banyak keluhan para pemilih maupun parpol. Waktu yang agak longgar hanya ia miliki di tiga hari sebelum pemilu, 6 April 2009. "Tetapi begitu selesai pemilihan tanggal memasuki tanggal 8 april sampai saat ini saya belum sempat pulang," tutur Wahyu.

Saya menengok sekeliling ruangan yang dipenuhi tumpukan kotak suara, tak ubahnya gudang barang di pabrik. Wahyu merogoh ponsel dari dalam sakunya sesaat kemudian melihat jam."Udah jam dua siang. Saatnya istirahat. Ayo ngobrolnya dilanjutkan di depan," katanya. Saya mengikuti langkah Wahyu menuruni tangga menuju ruangan tunggu kantor Kecamatan. Menghadap ke pesawat televisi di ruang tunggu, Wahyu duduk di bangku kayu model ukiran gaya Jepara dan meneruskan keluh kesahnya. Ia mengaku suntuk setiap kali menghadapi keluhan para saksi parpol yang menuntut pengulangan penghitungan suara. Wahyu melepas kaca mata minus yang dikenakannya. Tampaknya setelah berjam-jam berada di depan komputer membuat mata kanan bapak dua oarang anak ini mulai terganggu kesehatannya. "Ini saja sudah hari ketiga masih separuh yang sudah terhitung sedangkan KPU memberi deadline tanggal 16 April," ujar Wahyu.

Kesibukan Wahyu yang luar biasa itu, ternyata juga berdampak pada keluarganya. Seringnya ia pulang malam menyebabkan Wahyu hampir sembilan hari tidak ketemu dua orang anaknya yang duduk di kelas satu SMP dan kelas empat SD tersebut. Saat Wahyu pulang, biasanya kedua anaknya sudah tidur, tetapi ketika Wahyu bangun kedua anaknya sudah berangkat sekolah. Wahyu mengaku, sering menerima protes dari sang istri. "Tapi mau apalagi? Meski sering diprotes, saya sebisanya memberi pengertian," kata Wahyu.  

Keesokan harinya saya mencoba mendatangi rumah Wahyu yang berada dikawasan perumahan Pondok Mulia, Kota Malang. Di depan pagar besi  bercat hitam-perak saya memencet bel rumah. Seorang wanita berjilbab berusia 41 tahun membukakan pintu pagar sambil mempersilahkan saya masuk. Duduk bersandar mesin jahit, saya meminta tanggapan Dyah tentang kegiatan Wahyu suaminya, terkait tugasnya sebagai anggota PPK.

"Sebenarnya saya sudah bosan sekali dengan pemilu. Bahkan kalau boleh, nanti setelah pemilu saya suruh (Wahyu) mengundurkan diri saja dari kepanitiaan  pemilu. Gimana enggak kesal, sejak jadi PPK pada pilkada Kota Malang dan Pilgub Jatim tahun 2008 kemarin, secara enggak langsung perhatian terhadap keluarga agak berkurang. Meskipun tidak sampai menimbulkan keretakan dalam keluarga. Anak-anak sendiri memprotes walau tidak langsung ke bapaknya karena mungkin tidak berani," ujar wanita bernama lengkap Dyah Kartika Mahendrati ini. Kedua anak mereka cukup bisa mengerti kesibukan sang ayah. "Alhamdullih hal ini tidak sampai berperngaruh pada pendidikan mereka, karena sejak awal saya mendidik untuk selalu mandiri," lanjut Dyah. Kesibukan Dyah mengelola usaha konveksi yang mempekerjakan lima pegawai bisa sedikit menghibur dirinya, sembari terus mencoba memahami kesibukan suaminya. Setumpuk pesanan telah menunggu sentuhan tangannya. Itu artinya, pemesan telah menuggu hasil pekerjaan Dyah. (Alim Mustofa, Malang)

aries on Sunday 19 April 2009 at 07:32 am

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.