Kisah Sang Penjaga KPPS
Pemilu tak ubahnya pesta bagi para caleg dan petinggi partai. Di antara hingar-bingar itu, sosok seperti Andreas Bali (60) seakan tenggelam. Meski demikian, perannya sungguh tak bisa dikesampingkan. Di usia senjanya, ia masih mengemban tanggungjawab yang menuntut ketangguhan fisik, dengan menjadi petugas keamanan TPS di Kampung Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Sekitar pukul lima pagi di hari Selasa 14 April, Bapa Ande -begitu Andreas Bali biasa disapa-sudah mengenakan seragam hijau. Layaknya seorang tentara, Bapa Ande, demikian sapaan akrabnya, telah mengenakan sepatu boot, menenteng pentungan dan atribut pengenal lainnya. Kain kuning yang tersemat di lengan kirinya mengisyaratkan Bapa Ande bertugas untuk menjaga keamanan di TPS VII.
Pemilu legislatif 2009 kali ini tak ubahnya sebuah kisah penat bagi Bapa Ande. Aparat Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang sehari-harinya bekerja sebagai petani itu selalu awas dalam mengawal proses pemilu di TPS-nya. Di usianya yang telah uzur, ayah seorang putri ini tetap bersemangat mengemban tugasnya sebagai Linmas. Jika kebanyakan pria seusianya lebih memilih untuk duduk diam di rumah sambil menimang cucu dan dilayani oleh anak-anaknya, namun tidak demikian bagi Bapa Ande.
Sehari-hari Bapa Ande bekerja di kebun. Sambil menunggu hasil panenan jagung dan sayur-sayuran, ia mengumpulkan batu dan pasir untuk kemudian dijual kepada para kontraktor. Selain itu, Bapa Ande juga mampu bekerja sebagai tukang. Sesekali jika ada warga yang membutuhkan, ia dipanggil untuk membuat kandang babi, membangun rumah dan sebagainya. Dari pekerjaan yang dilakoni Bapa Ande berhasil membeli sebidang tanah berukuran 10 x 25 meter persegi. Kini di atas tanah itu sudah berdiri sebuah rumah mungil yang ia tempati bersama istrinya, Mesa Ujan dan anak perempuan semata wayang mereka, Nesti.
Bagi Bapa Ande, semua kesempatan kerja dilakoninya guna menghidupi anak dan istrinya. Bermodalkan pendidikan Sekolah Rakyat (SR), menjadi Linmas sudah menjadi berkah baginya. Meski sebagai penjaga keamanan di desa dirinya mendapat banyak tantangan. Di sela-sela menjaga TPS, Bapa Ande menceritakan pada saya kejadian saat ia beberapa tahun lalu dikejar-kejar dan dianiaya sekelompok pemuda mabuk di Waikomo. Para pemuda itu tidak menerima perlakuan Bapa Ande karena menegur mereka, yang mengganggu umat yang tengah beribadah Gereja St. Antonius Padua, Paroki Waikomo. Akibatnya, para pemuda pemabuk itu harus mendekam di penjara.
Bagi Bapa Ande, pemilu menjadi berkah tersendiri. Ia ditunjuk Lurah Lewoleba Barat untuk menjadi petugas keamanan KPPS. Untuk tugas itu, dirinya dituntut untuk bersiaga sekurangnya 24 jam sampai rekapitulasi di tingkat TPS itu selesai. Saat proses mencontreng selesai pukul 13.00, bukan berarti tugas menjaga keamanan usai. Kerja maraton penghitungan suara di TPS itu harus dijalaninya hingga berakhir pukul lima pagi. Meskipun dengan tenaga tersisa karena kurang istirahat, Bapa Ande harus segera mengantarkan hasil rekapitulasi ke tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang berjarak 10 kilometer dari TPS-nya bersama dengan Ketua KPPS VII dengan. Kotak suara menyusul
Dengan wajah lusuh dan mata yang telah memerah, Bapa Ande tiba kembali di rumahnya jam sembilan pagi di hari Rabu, 15 April. Ia segera beristirahat setelah dua hari penuh dijerat kepenatan. Dirinya berharap, anggota legislatif yang terpilih nanti dapat merubah keadaan di Waikomo. "Yang penting ada air minum, listrik yang selalu hidup, dan jalan aspal di lorong-lorong yang masih berlubang di sana-sini," ujarnya berharap.
Sampai di sini, usai sudah tanggungjawab Bapa Ande mengamankan pemilu legislatif di TPS itu di kampungnya. Dengan penghasilan sebesar Rp.200 ribu, dirinya tetap bersyukur kepada Tuhan. Dengan wajah gagah ia pulang, dan meyerahkan penghasilannya itu kepada istri tercinta yang setia menanti di rumah. Adakah kerja keras orang seperti Bapa Ande ini akan menghasilkan anggota legislatif yang peduli dengan nasib mereka? Kita tunggu saja. (Alexander Taum, Lembata)









Ha, Haero !!!!, Pengorbanan?, semoga tulisan ini membuat mata hati para pejabat di lembata terbuka.