Kiprah Para Petugas KPPS

Salah satu unsur penting yang tidak bisa dikesampingkan dalam setiap penyelenggaraan pemilu di republik ini adalah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Mereka harus bekerja berjam-jam, bahkan berhari-hari sebelum pelaksanaan pemilu, agar warga bisa memberikan suara sebaik mungkin.

Hari Minggu lalu, sekitar pukul 12.30 cuaca cukup cerah di tak ada segumpal awanpun yang bertengger. Angin berhembus sangat sejuk seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa masih ada kesejukan di hamparan lereng gunung Putri Tidur alias Gunung Malang. Saya datang untuk menemui Nasariyanto (41), Ketua KPPS yang pada 9 April lalu bertugas di TPS 4 Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Tak sulit bagi saya untuk mencari rumah salah satu anggota KPPS yang bertugas di pemilu dua hari yang lalu. Seseorang yang sempat saya tanya di jalan tadi menyodorkan nama Nasariyanto kepada saya.

Bertugas sabagai Ketua KPPS pada pemilu agaknya sangat berat, dan relatif tak sebanding dengan honor yang mereka terima. Selama tiga hari penuh Nasariyanto harus optimal mempersiapkan pemilihan di TPS sebelah rumahnya. Ia dan anggota KPPS lain mulai menyiapkan tenda secara swadaya dengan bantuan penduduk lainnya. Mereka meminjam meja dan kursi dan perangkat lain yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pemilu. "Mulai tanggal tujuh kemarin saya bersama anggota KPPS lainnya lembur semalaman untuk menyiapkan undangan pemilih, kemudian mengantar undangan ke pemilih yang tercatat masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT)," ujar Nasariyanto.

Sehubungan dengan relatif rumitnya cara pemberian suara pada pemilu kali ini dibanding pemilu - pemilu terdahulu, Nasariyanto juga terlibat dalam sosialisasi pemilu di hari-hari menjelang pemilu. Pihaknya melakukan itu lewat pertemuan RT/RW, tahlilan, dan sebagainya. Sehari sebelum pemilu, ia bersama anggota KPPS lainnya dan dibantu warga sekitar menyiapkan perlengkapan pemilu hingga pukul dua dinihari.

Satu proses yang cukup melelahkan bagi Nasariyanto adalah saat ia harus menandatangani empat jenis kartu suara (DPR, DPRD Propinsi, DPRD Kab/Kota dan DPD). Dengan jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT sebanyak 473, berarti Nasariyanto harus membubuhkan tandatangan di total 1892 surat suara. Ironisnya, ia dan seorang anggota KPPS justru terdaftar di TPS lain, dan tidak bisa meninggalkan TPS 4. "Lah, pemilihnya banyak, tapi waktu pencontrengan cuma lima jam. Belum lagi banyak orang tua yang tidak tahu cara nyontrengnya. Kalau saya tinggal (untuk mencontreng di TPS lain) bisa berantakan TPS ini," kata Nasariyanto.

Ia mengaku proses penghitungan suara kali ini sangat melelahkan. Untuk menghitung satu kotak suara butuh waktu dua jam. Belum lagi cukup rumitnya proses pemeriksaan surat suara, yang mana setiap kali dibuka lembar suara harus diperiksa saksi dari parpol untuk memastikan keabsahannya. "Proses penghitungan suara dimulai jam satu siang dan berakhir jam setengah dua belas malam. Itu terjadi karena rumitnya poses rekapitulasi suara dan membuat berita acara hasil pemilihan," terang Nasariyanto.

Satu hal yang cukup mengesalkan baginya adalah tidak maksimalnya kondisi alat tulis yang dikeluhkan para pemilih di TPS itu. "Satu yang paling buat kami kecewa adalah tidak diberi uang lembur dari KPU. Padahal pinggang ini sudah nggak bisa diajak kompromi. Kerja kita selama empat hari lembur sampai malam tolong ini disampaikan pada yang berwenang agar ada perbaikan ke depan," tandas Nasariyanto. Untuk kerja kerasnya pada Kamis 9 April lalu, ia menerima honor sebesar Rp.200 ribu sebelum dipotong pajak sebesar 2,5 persen. "Beruntung, anak istri saya enggak protes selama saya tinggal ngurusi pemilu sampai malam," ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Nasrullah, anggota KPPS di TPS 13 Kedondong Raye, Banyuasin, Sumatera Selatan mengaku, menjadi petugas di hari pemungutan suara adalah pengalaman tersendiri baginya. Ia bersedia menjadi anggota KPPS bukan semata-mata karena uang melainkan karena ingin mengabdikan diri pada bangsa dan negara. "Kalau kita mengharapkan uang tentulah uang yang diberikan kepada kita tidaklah sebanding dengan pekerjaan yang kita lakukan pada hari pemungutan suara," jelas pria yang biasa disapa Aan, yang sejak pemilu tahun 1999 selalu menjadi anggota KPPS.

Hal berbeda diungkapkan Suhendra, petugas TPS 02 Desa Air Senggeris Kecamatan Betung, Banyuasin. Menurutnya, seharusnya honor petugas TPS mendapatkan dua kali lipat dari honor yang mereka terima sekarang. "Kalau melihat tugas yang kami lakukan, seharusnya kami mendapatka honor dua kali lipat dari yang kami terima sekarang. Dari pekerjaan ini kami hanya menerima upah sebesar 200 ribu, coba bandingkan dengan tugas yang kami lakukan. Kami mulai bekerja semenjak H-5 dan berakhir pada tanggal 9 April. Itupun kalau pemilihannya berlangsung cepat, kalau terhambat bagaimana?" ungkap Hendra. (Alim Musfata, Malang dan Arman, Banyuasin)

aries on Tuesday 14 April 2009 at 06:29 am

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.