Sejumput Harapan Setelah Tentukan Pilihan

Memberi suara dalam pemilu sama artinya dengan menaruh harapan. Kamis, 9 April lalu jutaan orang Indonesia telah memberikan suara mereka, tidak terkecuali masyarakat Dusun Pusung, Wonorejo Blandit, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dusun Pusung berada di perbukitan yang berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan. Dengan kendaraan roda dua, butuh waktu satu jam dari Singosari untuk sampai ke sana.

Suasana pagi 9 April 2009 di Dusun Pusung tidak seperti biasanya. Bilik dan kotak suara, daftar caleg, daftar pemilih tetap, dan juga kursi antrian sudah tertata rapi di satu-satunya Tempat Pemungutan Suara (TPS) di dusun itu. Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pun sudah bersiap menjalankan tugas.

Jam belum menunjukkan pukul tujuh pagi, tetapi sekitar 15 orang sudah hadir di TPS, lengkap dengan selembar undangan memilih di tangan. Di antara mereka ada yang melihat-lihat daftar caleg, ada pula yang mengamati persiapan petugas KPPS sambil berjemur di bawah sinar matahari yang sudah menyapa dari balik bukit. Anak-anak juga terlihat ikut serta menikmati pemandangan pesta demokrasi pagi itu. Maklum, inilah pertama kalinya TPS yang berdiri di dusun itu. Sebelumnya, warga Pusung harus turun gunung ke Desa Wonorejo untuk menggunakan hak pilih.

Begitu empat orang saksi partai datang, Ketua KPPS segera memimpin prosesi pemungutan suara. Kursi antrian pun mulai dipenuhi warga pemilih. Satu per satu pemilih masuk bilik suara, melakukan pencontrengan, memasukkan surat suara ke tempat yang sudah disediakan, dan mencelupkan jari ke tinta warna biru sebagai tanda sudah memilih. Setelah memilih, sebagian langsung pulang menyelesaikan pekerjaan, dan sebagian sengaja libur kerja untuk melihat proses pencontrengan.

Penduduk Pusung sendiri berjumlah 76 kepala keluarga. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pemelihara sapi dan petani jagung. Lasim, seorang pria yang tidak mengetahui umurnya, punya keinginan menikmati jalan beraspal dan lampu. Fasilitas itu jugalah yang diinginkan oleh Kastin (45), Karsi (27), Satuman (55), dan Sukir (60). Keinginan mereka memang sangat beralasan. Pasalnya, tidak ada sejengkal pun jalan menuju Pusung yang sudah diaspal. Keadaan ini berdampak pada aspek-aspek lain, misalnya perekonomian dan pembangunan. Pedagang enggan ke daerah ini karena jalannya sulit dilalui mobil.
Akses jalan yang luar biasa sulit dan membahayakan - terkait keberadaan sejumlah jurang di sana - membuat warga Pusung tidak bisa menikmati rumah bersemen. Jelas, karena sangat sulit untuk mengangkut pasir dan bahan bangunan lainnya dengan mobil dengan kondisi jalan yang tidak memadai ini. Sangat sulit juga untuk membujuk sopir truk untuk mau mengangkut bahan bangunan ke dusun mereka. Agar bisa menghemat pengeluaran sehari - hari dan menabung untuk membangun atau merenovasi rumah, warga Pusung terbiasa memanfaatkan hasil bumi untuk konsumsi sehari-hari.

Terangnya lampu turut menjadi harapan warga Pusung. Sampai sekarang, tidak semua warga bisa menikmati sinar-binar lampu. Mereka menggunakan lampu minyak atau yang biasa disebut oblik untuk semua aktivitas, tidak terkecuali untuk anak-anak mereka yang mengerjakan Pekerjaan Rumah dari sekolah. Jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli minyak tanah tidak kurang dari Rp.20 ribu per bulan. Karsi misalnya, ia membeli minyak tanah untuk oblik sebesar Rp.24 ribu per bulan. Jika tidak tahan berlama-lama dengan kegelapan, sebagian warga mengambil saluran listrik dari desa yang letaknya berada di bawah Pusung. Biaya beli saluran yang harus dibayar antara Rp. 2,5 - 2,7 juta untuk 5 - 6 rumah. Kabel yang diperlukan bisa mencapai 500 meter. Itu juga bukan tanpa resiko, karena ada saja tangan - tangan jahil yang mencuri kabel mereka. Namun, risiko tersebut tetap dihadapi, karena dengan adanya saluran listrik mereka bisa menikmati siaran televisi. Dan, yang tidak kalah penting, biaya rekening lebih murah dibanding minyak tanah. Salah seorang warga, Busiman, mengaku hanya perlu mengeluarkan Rp.20 ribu per bulan, lebih hemat Rp.4 ribu dari biaya minyak tanah Karsi. Agustus 2008 memang ada bantuan alat penyimpan tenaga surya untuk energi lampu, tetapi itu pun tidak diberikan ke semua rumah. Baru ada 26 rumah yang mendapat fasilitas tersebut, sementara yang lain tetap menggunakan oblik.

Bagi generasi yang lebih muda, fasilitas pendidikan menjadi salah satu harapan. Salah satunya adalah Poniah (24). Menurutnya, sudah saatnya Pusung mendapat fasilitas pendidikan yang lebih memadai, tidak hanya SD seperti sekarang. Apalagi, banyak anak kecil usia sekolah yang membutuhkan Taman Kanak - Kanak sebagai sarana bermain dan sarana untuk mempercepat perkembangan kognisi. Pendapat ini dibenarkan oleh Yuniarti (21) yang sangat mengharapkan adanya fasilitas pendidikan hingga SMP. Baginya, keberadaan sarana prasarana pendidikan sangat penting untuk memajukan Dusun Pusung.

Letak Dusun Pusung yang terpencil memang menyulitkan pembangunan. Waktu 55 tahun, seusia Satuman, semestinya sudah lebih dari cukup untuk memberikan fasilitas jalan, lampu, dan fasilitas pendidikan. "Ya...semestinya sudah cukup," ujar Satuman. Sebagai pembanding, Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang yang terletak di kaki Gunung Bromo sudah tersentuh pembangunan jalan dan fasilitas lampu. Mungkinkah setelah kepercayaan diberikan, harapan Satuman dan warga lainnya akan terwujud? Atau haruskah mereka menunggu 55 tahun lagi? (Any Rufaidah, Malang)

aries on Monday 13 April 2009 at 09:28 am

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.