Pulang Kampung Demi Pemilu
Menjelang hari raya biasanya masyarakat Indonesia melakukan ritual mudik, untuk menemui sanak famili, tetangga atau kolega. Tetapi, tidak sedikit warga di Malang, Jawa Timur dan Banyuasin, Sumatera Selatan yang melakukan ritual mudik ini di hari Kamis 9 April lalu, agar bisa melakukan pencontrengan.
Jalan selebar tiga meter terpasang bebatuan gunung yang beraturan, menemani saya menuju rumah seorang penduduk Dusun Teguhan Masuk Desa Argosari berada di kaki pegunungan bagian utara Kabupaten Malang. Untuk menuju ke sana diperlukan waktu kurang lebih satu jam dari pusat kota Malang. Maklum, Dusun Teguhan termasuk kawasan pelosok alias dusun tertinggal. Sepanjang perjalanan tampak hamparan ladang tebu dan pepohonan yang rindang. Suasana sangat sepi, buktinya hanya sesekali saya bisa berpapasan dengan penduduk yang tersenyum menyapa. Suara burung berkicauan beberapa serangga ikut bernyanyi bersahutan. Suasana khas pedesaan.
Beberapa saat setelah melewati Jalan Makadam yang sudah rusak, sampailah saya di rumah Suparman (45), yang merantau di luar kota dan tiba di desanya menjelang tengah malam, sehari sebelum hari pencontrengan. Ditemui di rumahnya yang sederhana Suparman - seperti masyarakat pedesaan pada umumnya - menyapa saya dengan hangat, "Silahkan masuk Mas. Maaf rumah saya berantakan. Maklum di desa."
Suparman yang berprofesi sebagai tukang batu di Kota Bojonegoro mengaku pulang kampung untuk menunaikan kewajibannya sebagai rakyat. "Kewajiban yang saya maksud adalah memilih dalam pemilu sekarang ini. Sebab bagaimanapun saya butuh pemerintah. Nah, pemilu kan gawe-nya pemerintah, kita harus mendukungnya. Tapi kalau soal milih siapa, saya sudah punya pilihan tersendiri, enggak ada yang maksa kok," jawab bapak dari tiga anak ini.
Suparman mengaku, ia memerlukan waktu tujuh jam perjalanan untuk mencapai kampung halamannya dari Bojonegoro. Ia harus naik bus kota dua kali melewati Kota Surabaya untuk selanjutnya transit di Kota Malang. Sesampai di Malang ia masih harus menumpang mikrolet menuju Kecamatan Pakis. Dari Pakis ia harus naik ojek sejauh kurang lebih 13 kilometer, menembus kegelapan malam melewati hutan menuju kampung halamannya.
Suparman menambahkan, sebenarnya gajinya tidaklah terlalu besar. Ia harus berpisah dengan anak dan istrinya. Dan untuk tidur pun Suparman harus rela menempati gudang bangunan proyek. Tetapi bagi seorang Suparman, kerelaan untuk kepentingan bersama tampaknya cukup menjadi sebuah alasan untuk pulang kampung dan menggunakan hak pilihnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Choirul Fatoni (27). Ia rela jauh - jauh pulang kampung dan meninggalkan sementara pekerjaannya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan menuju kampung halamannya di Dusun Mbusu, Desa Slampa Rejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang dengan satu keperluan: pemilu. "Pulang kampung untuk mengikuti pemilu ini memang sudah saya rencanakan sudah lama, sekalian sambang (mengunjungi-Red) keluarga," ujar Choirul. Seperti Suparman, ia menilai pemilu yang diselenggarakan pemerintah harus dipatuhi oleh setiap warga negara.
Tanpa imbalan
Setali tiga uang, dua orang warga Desa Terentang, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Marjani dan Riduan juga harus pulang ke kampung halaman, dan meninggalkan pekerjaan mereka di Jambi, Kamis 9 April lalu.
Marjani menuturkan, ia sengaja pulang kampung untuk melakukan pencontrengan. "Saya memang sengaja pulang kampung hanya untuk melakukan pencontrengan, karena di Jambi nama saya tidak terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan tidak mendapatkan undangan untuk memilih," jelasnya sambil menambahkan bahwa selain mencontreng dia juga pulang ke tanah kelahirannya karena melepas rindu dengan keluarganya.
Demikian juga Riduan. Ia segera memutuskan untuk pulang kampung, setelah mengetahui dirinya tidak terdaftar sebagai pemilih di DPT di Jambi."Setelah mengetahui dari petugas KPPS saya tidak dapat melakukan pencontrengan, saya berkemas untuk pulang. Di kampung saya masih terdaftar sebagai pemilih dan bisa melakukan pencontrengan. Saya baru tiba pagi ini (9 April) di Desa Terentang," jelasnya. Riduan juga mengaku, motivasi lain yang membuatnya nekat pulang kampung dan meninggalkan pekerjaannya di Jambi, adalah karena ada salah satu anggota keluarganya yang mencalonkan diri menjadi anggata legeslatif.
Riduan mengaku, tidak mendapatkan imbalan apa pun dari caleg yang akan ia pilih, karena meninggalkan pekerjaannya di Jambi. "Saya pulang dengan ongkos sendiri dan tidak mendapatkan uang dari daleg yang saya pilih tetapi. Tetapi kalau diberi tentu akan saya terima dengan senang hati," ungkapnya.
Mereka sudah menempuh perjalanan jauh untuk memberikan suaranya pada caleg yang ia pilih untuk bisa mewakili aspirasinya di gedung dewan. Semoga saja, apa yang mereka harapkan dari para caleg ini tidak bertepuk sebelah tangan.
(Alim Mustofa, Malang dan Prana Susiko, Banyuasin)








