Lansia Butuh Sosialisasi Khusus
Di sebuah kantor yang berwarna serba oranye, saya menangkap sebuah pemandangan tak biasa. Sekitar 30 orang lanjut usia (lansia) sedang duduk di belakang kantor itu. Di hadapan mereka terpasang sebuah mikrofon. Ternyata sekitar 30 lansia itu sedang antri pencairan dana pensiun di Kantor Pos Blimbing, Malang, bukan menunggu sosialisasi pemilu, seperti yang saya pikirkan sebelumnya.
Adalah Afsah, seorang nenek berkerudung hijau yang menarik saya untuk mendekat kala itu. Wajahnya yang terlihat ramah dan apa adanya semakin membuat saya tak ragu untuk menyapa. Dan benar, perempuan 72 tahun itu menjawab setiap pertanyaan dengan gamblang dan apa adanya. Kalimat-kalimatnya sering mengundang tawa. "Mbak ini maunya apa sih?" Afsah mengaku belum sepenuhnya mengerti tata cara pemberian suara pada pemilu legislatif nanti. Ia memang sudah mendapat informasi dari anak, saudara, dan tetangga, namun ia mengaku sudah tidak mengingatnya lagi. "Ini belum pemilihan presiden ya?", "Yang dicari nomornya?," demikian ia coba untuk mengingat-ingat.
Ia mengaku sosialisasi khusus lansia dari KPUD sangat dibutuhkan, karena dengan demikian lansia seperti dirinya bisa memahami tata cara pemilihan dengan lebih tepat. Tetapi, kebutuhan tidak selalu berujung kenyataan. Alhasil, Afsah bahkan belum tahu berapa jumlah kertas suara yang harus ditandai. "Nggak tahu. Katanya nyoret tiga ya?" ujar istri pensiunan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).
Sela tiga orang dari Afsah, saya melihat sosok tua dengan payung di tangan. Tidak ada orang yang lebih muda mendampinginya, ia adalah Suparni (70). Sambutannya sangat hangat. Meski bibirnya menggigil, pertanyan-pertanyaan yang terlontar ia tanggapi dengan panjang lebar, disertai dengan segenap rasionalisasi. Sempat pula ia menyampaikan pandangan tentang golput dan pemerintahan Indonesia. Suparni tidak pernah melewatkan pemilihan umum. Ia bahkan selalu mengikuti penghitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) hingga usai. "Mulai pembukaan sampai selesai, saya selalu mengikuti (proses pemilihan umum, Red)," tuturnya. Begitupun pada Pemilu 2009 ini. Suparni mengatakan pasti akan memilih pada 9 April nanti. "Ya, saya akan memilih. Kalau nggak memilih, saya kan rugi," ungkapnya.
Kendalanya, Suparni masih bingung dengan tata cara pemberian suara. Ia juga tidak hafal siapa saja yang akan dipilih nanti. Faktor usia membuatnya kesulitan menyerap informasi. Namun, tak berbeda dengan Afsah, Suparni juga ketinggalan agenda sosialisasi KPUD Kota Malang. Mereka yang datang ke lingkungannya hanya caleg.
Wagiman (81), pensiunan Dinas Perdagangan mengakui hal yang sama. Sampai saat ini ia belum pernah mendapat undangan sosialisasi, baik sebagai lansia maupun sebagai warga umum. Karena sampai sekarang KPUD tak kunjung datang, maka anak, tetangga, atau ketua organisasi di lingkungannya lah yang mengajarinya tata cara pemberian suara nanti. Bahkan, di antara lansia itu ada yang mengatakan akan belajar di TPS saja jika pencerahan belum juga datang.
Pada kantor berwarna serba oranye itu, saya melihat lansia terlewatkan dari perhatian panitia penyelenggara pemilu. Mestinya mereka memperoleh sosialisasi khusus karena keterbatasannya, bukan dibiarkan mencari informasi sendiri di usia senjanya. Apalagi tingkat kesalahan dari simulasi di tujuh daerah di Jawa Timur mencapai 30-35 persen. Dengan memberikan sosialisasi kepada lansia, setidaknya tingkat kesalahan nanti dapat diminimalisir. (Any Rufaidah, Malang)








