Pemuda Pelopor Pemersatu

Apa yang dilakukan kelompok Karang Taruna di Desa Tlogosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, kiranya bisa menjadi contoh bagi kaum muda Indonesia yang lain. Mereka memelopori cara berkampanye yang damai. Mereka berpandangan, persaingan boleh berjalan namun hubungan baik dengan tetangga jauh lebih penting daripada urusan partai politik. Bagaimana caranya?

Agak sulit menemukan pemandangan seperti di RW.06 Desa Tlogosari ini. Kalau biasanya bendera parpol peserta pemilu dipasang bersama di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau kantor Pemerintahan, di desa itu semua parpol diberi kesempatan untuk memajang bendera masing - masing.

Kesadaraan yang dibangun Karang Taruna itu ternyata mempunyai ceritanya sendiri. Menurut Ketua Karang Taruna RW.06 Pelabuhan Tlogosari Isa Ansori (28), awal bulan Februari 2009 lalu terjadi polemik yang mengarah pada perseteruan warga. Saat itu seorang simpatisan salah satu partai besar memasang bendera parpolnya di depan semua rumah warga tanpa meminta izin terlebih dahulu. Hal ini kontan membuat warga yang tidak sepaham dengan partai itu tidak berkenan. Belum polemik itu mereda, seorang simpatisan dari partai lain juga memasang bendera partai di depan rumah warga keesokan paginya. Melihat ada parpol lain memansang bendera yang bersebelahan dengan bendera parpolnya, kader partai besar yang sudah memasang bendera partai di sejumlah rumah warga marah. "Ia pun langsung melepaskan bendera partai yang ‘ikut-ikutan' memasang bendera di rumah-rumah warga," ungkap Isa.

Kondisi demikian ternyata tidak berhenti sampai di situ. Merasa belum puas melepasi bendera partai yang ‘ikut-ikutan' memasang bendera partai, seorang kader partai yang lebih dulu memasang bendera melabrak simpatisan partai kedua. Ia melarang kader partai lain ikut-ikutan memasang bendera partainya di wilayah RW.06 ini, dengan alasan, wilayah ini sudah diklaim menjadi basis partainya terlebih partai yang kedua tidak meminta izin. Perang mulut pun tak terhindarkan, karena kedua pihak merasa paling berhak memasang atribut parpol.

Tidak ingin persoalan ini lebih melebar, Karang Taruna berinisiatif meredam konflik itu. Caranya, mereka mengizinkan semua parpol untuk memasang bendera partai masing - masing di sebuah pos yang sering digunakan warga untuk berkumpul. Seorang warga, Ahmad Puswito (30) mengatkan, "Saya tidak ingin perbedaan partai mengorbankan hubungan bertetangga. Kalau di kampung hubungan baik dengan tetangga lebih penting daripada parpol." Bersama Ketua Karang Taruna Ahmad lantas mengajak muda - mudi setempat untuk mencari bendera dari 35 parpol peserta pemilu (di tingkat nasional ada 38 parpol) dan memasangnya di pos jaga, sehingga seluruh warga bisa melihat semua bendera parpol, meski sejauh ini baru terkumpul 19 bendera parpol. Sejumlah partai baru dengan berbagai alasan sulit untuk memberikan bendera parpol untuk dikibarkan.

Isa menambahkan, "Ini semua kan parpolnya orang Indonesia yang sah. Jadi mereka mempunyai hak yang sama untuk memperoleh simpati warga, tidak boleh ada yang merasa paling berhak." (Alim Mustofa, Malang)

aries on Monday 06 April 2009 at 1:26 pm

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.