Kibaran Bendera Partai di Kebun Apel

Bagian Pertama dari Tiga Tulisan

Rasanya tak lengkap membicarakan Kota Batu, di Malang, Jawa Timur, tanpa menyinggung soal buah apel yang sudah menjadi ‘simbol' kota itu, dan juga beberapa daerah lain di Malang. Tetapi, menyambut pemilu 2009, ternyata masih ada di antara petani apel yang belum memahami prosedur pemilihan yang sudah berganti, dari pencoblosan menjadi pencontrengan. Lagi-lagi kita menemukan contoh, bagaimana sosialisasi pemilu kepada masyarakat belum tuntas dilakukan.

Senin 30 Maret sore, hamparan apel di kanan kiri terlihat begitu indah. Tampak seorang gadis berseragam SMA berjalan perlahan menuju dataran yang lebih tinggi. Warna-warni bunga terlihat di depan rumah-rumah warga. Pemandangan itu ada di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. Kecamatan ini terkenal sebagai penghasil apel selain Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Pemandangan lain yang ikut menyita perhatian saya adalah bendera partai dan foto caleg berbagai ukuran yang meramaikan pemandangan desa.

Hingga Maret 2009, penduduk Desa Bulukerto berjumlah 6.003 jiwa, dengan rincian 3.085 laki-laki dan 2.918 perempuan. Hampir semua penduduk bekerja sebagai petani apel. Namun, jangan salah mengira. Petani apel tidak berarti pemilik kebun apel. Sebagian besar dari mereka tak lain adalah buruh tani.

"Waalaikumsalam," sahut seorang perempuan di rumah yang saya tuju menjawab salam saya. Dengan ramah perempuan bernama Sumaiyah (33) itu mempersilakan saya dan seorang teman untuk masuk ke rumahnya. Ia melarang kami melepas alas kaki, karena lantai rumahnya bisa membuat kaki menggigil. Janda dua anak itu menyambut baik niat saya untuk bermalam di rumahnya. Dia pun menanggapi dengan cekatan setiap pertanyaan ringan tentang apel dan tema-tema umum yang kami lontarkan.

Di tengah pembicaraan yang disertai celoteh Jaka, anak ragil perempuan berkulit sawo matang itu, hujan menyapa kami. Beberapa saat kemudian saya dipersilakan beristirahat sebelum bertandang ke rumah warga. Tak tahan rasanya menahan dinginnya air yang saya ambil sebelum istirahat.

Tak lama kemudian, saya bertemu dengan ayah Sumaiyah, Riono (59). "Bagaimana kondisi pertanian apel saat ini, Pak?" Pertanyaan pertama yang saya lontarkan kepada Riono, yang berprofesi sebagai petani pemilik kebun apel. "Kondisinya kurang memenuhi, obat-obatnya mahal. Nggak seperti dulu (sebelum krisis, Red)," jawab bapak yang saat itu didampingi anaknya yang ikut mengelola kebun apel. "Setelah krisis, semua petani apel mengeluh," tambahnya. Kenaikan harga obat yang mencapai 5 kali lipat menjadi penyebab utama keluhan para petani. Harga perawatan naik, sementara harga apel rata-rata tetap. Hasil panen pun belum pasti besar, bahkan Riono juga pernah mengalami kerugian, karena hasil panen yang normalnya enam ton menjadi lima kuintal. Pemerintah memang pernah memberikan subsidi dalam bentuk menurunkan harga pupuk Urea dan ZA. Tetapi ternyata itu tidak banyak membantu, karena yang lebih menentukan harga perawatan adalah obat untuk merawat apel seperti pembasmi hama, bukan pupuknya. Untuk menekan biaya produksi, Riono memilih untuk mengandalkan keluarga sendiri dalam menggarap kebun apelnya.

Menjelang pemilihan legislatif ini, janji-janji politik para caleg untuk membantu mengatasi problem petani memang banyak terdengar, tetapi Riono mengaku tidak berani berharap banyak. "Pokoknya orang kecil itu jangan dibohongi lah. Janji-janji, begini-begini, tapi tidak ada kenyataannya," tutur Riono dengan meninggikan suara. Sampai saat ini, lelaki berkulit legam itu belum mengetahui siapa yang akan dipilihnya dalam pemilu mendatang. Riono mengaku, baru akan menentukan caleg pilihan pada hari pemilihan 9 April nanti. "Pokoknya, pas hari pemungutan suara," ujar pemilik kebun apel seluas 4.000 meter persegi itu. Mengenai banyaknya partai dan caleg serta tata cara pemilihan yang baru, Riono mengaku tidak bingung. Menurutnya, karena era sudah berganti dan pemerintah sudah menentukan demikian, maka sebagai anggota masyarakat ia wajib untuk mengikutinya.

Segelas teh yang disajikan istri Riono pun habis sudah. Saya pun melangkah ke rumah lain sesuai petunjuk Riono. Rumah itu dihuni Sulikanah (27) yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. Untuk enam jam kerja per harinya, Sulikanah mendapat upah sebesar Rp.10.000 sampai Rp.12.500. Kalau bekerja pada juragan yang murah hati, ia bisa mendapat jatah makan siang. Namun sayang, tidak setiap hari ia bisa mendapat pekerjaan Kalau penghasilan juragan berkurang Sulikanah dan buruh-buruh lainnya pun lantas diberhentikan. "Tergantung penghasilan. Tergantung apel. Kalau apelnya ada, kerjanya lancar. Jadi, orang kaya sama orang miskin itu sama. Sama-sama membutuhkan. Kalau tidak ada orang kaya, saya ya nggak makan, Mbak," tuturnya dengan nada merendah.

Sepuluh menit berada di rumah Sulikanah, seorang perempuan datang menyapa saya. Dia adalah Ponimi (44). Melihat perangainya yang ramah, segera saya melibatkannya dalam diskusi pemilu. "Iya pasti," ujar Ponimi tegas saat ditanya apa nanti akan menggunakan hak pilih dalam pemilu. Jawaban Ponimi dibenarkan oleh Sulikanah. Kedua perempuan itu sepakat, bahwa menggunakan hak pilih adalah hal penting. "Pentingnya itu supaya sembako diturunkan, pekerjaan lancar," ungkap Sulikanah setelah beberapa kali pertanyaan saya ulangi. Sulikanah dan Ponimi mengaku belum mengetahui caleg mana yang akan mereka pilih nanti. Sulikanah mengaku tidak mempermasalahkan fakta bahwa ia tidak mengenal satu pun caleg dalam pemilu kali ini. "Kenal (caleg) tapi sembako naik terus, percuma. Sembako turun, pekerjaan lancar," ujar Sulikanah. Ia dan sang suami, Yadiono, juga mengaku lebih menikmati Indonesia di era orde baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

Dialog bertambah ramai dengan kedatangan Ngati'ah (40), Sugiati (27), dan Zuraida (22) yang baru datang dari tiba'an (pengajian sholawat nabi, Red). Ketiga perempuan yang pernah bekerja sebagai buruh tani itu segera ikut menimpali pertanyaan-pertanyaan saya. Mereka pun mengaku belum menentukan pilihan dalam pemilu yang akan datang. "Mungkin tiga hari sebelum pemilihan baru saya akan menentukan pilihan," ujar Sugiati. Saat disinggung mengenai tata cara pemilihan, mereka serentak menjawab sudah. Sumbernya adalah informasi dari TV. "Ya di TV. Dicawang....dicawang gitu," tegas Ngati'ah sambil memeragakan tangannya. Ada yang menarik dari kelanjutan kalimat perempuan yang sekarang bekerja sebagai juru masak di koperasi itu. Dia mengatakan, "gambarnya dicawang." Setelah dikatakan bahwa gambar caleg tidak ada di surat suara, Ngati'ah hanya menjawab, "Ooooo."

Jarum pendek jam sudah menunjuk angka delapan. Tidak enak rasanya meneruskan perbincangan. Maka saya putuskan segera beranjak (Bersambung)
(Any Rufaidah)

aries on Friday 03 April 2009 at 12:28 pm

No comments

Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.