Dulu Berjualan, Sekarang Berjualan

Sebelumnya, di lokasi itu berdiri Pasar Inpres. Namun, tahun 2004 api membakar habis ratusan kios di pasar itu. Kini, menjelang pemilu legislatif 2009 lokasi itu menjadi tempat para caleg dan parpol untuk berkampanye. Ada kesamaan di sini, proses tawar-menawar.

Dua puluh tahun silam, saat Lembata masih menjadi bagian dari Kabupaten Flores Timur, lahan seluas dua hektar lebih itu selalu diramaikan hiruk- pikuk pedagang dan pembeli. Banyak orang dari segenap penjuru Lembata, juga dari luar daerah, hilir mudik berbelanja. Tempat yang sangat strategis, karena berada tepat di jantung kota Lewoleba. Sehingga banyak warga setempat menyebut, bahwa pasar itu pernah menjadi ikon kota, karena kerap dikunjungi masyarakat Lembata dan sekitarnya.

Menurut cerita warga setempat, dulu kegiatan jual beli hanya dilakukan hingga sore hari. Namun uniknya, setiap hari Senin kegiatan jual beli berlangsung hingga pukul 12 malam. Salah seorang warga setempat Pius Wahon mengatakan, kegiatan di Pasar Hari Senin sebagai pertautan budaya dan sepuluh bahasa penduduk Lembata. Menariknya, percakapan antar warga Lembata bisa tetap dilakuan meskipun dilakukan dalam bahasa berbeda-beda. "Lokasi ini mejadi saksi pertautan budaya dan bahasa yang tentram dan damai. Suatu kondisi yang menurut para tetua sudah berlangsung sejak kota ini ada," Pius mengatakan.

Namun, sepekan menjelang pemilu legislatif tahun 2004, pasar yang berada di lokasi strategis itu habis terbakar. Satu kondisi yang memaksa ratusan pedagang untuk pergi dari situ. Tidak sedikit kerugian yang diderita para pedagang saat itu. Direktris Lembaga Swadaya Masyarakat Sedon Senaren Lamalohot, Bibiana Riang Hepat, yang saat itu terjun dalam advokasi korban mengatakan, kasus kebakaran itu hingga kini masih menjadi tanda tanya bagi warga Lembata. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lembata Aloysius Urbanus Uri Murin mengatakan, saat itu tim forensik Mabes Polri berkesimpulan bahwa kebakaran yang terjadi waktu itu dipicu hubungan arus pendek listrik. Namun, temuan itu dibantah oleh Kepala Perusahaan Listrik Negara (PLN) Ranting Lembata tahun 2004 Ipi Fernandes. Menurut Ipi, kebakaran disebabkan oleh unsur kesengajaan. Diduga, terbakarnya Pasar Inpres Lewoleba akibat pemaksaan kebijakan oleh pemerintah setempat. Sampai saat ini desas-desus ini tetap menjadi teka teki. Tidak ada kepastian hukum, sehingg akhirnya pemerintah mengeluarkan larangan bagi para pedangang untuk berjalan di lokasi itu. Sebagai gantinya, pemerintah membangun Pasar Lamahora di bagian timur, dan Pasar Pada di bagian barat. Lagi-lagi tidak ada satu pun pernyataan resmi pemerintah soal peruntukan lokasi eks Pasar Inpres itu.

Kini, setelah sepuluh tahun menjadi Kabupaten Lembata, ribuan orang memadati lokasi ini, tidak untuk jual-beli namun untuk menghadiri kampanye parpol. Sejak putaran pertama hingga putaran kedua masa kampanye pemilu legislatif 2009, lahan ini identik dengan arena kampanye. Partai politik yang mendapat giliran berkampanye di Kelurahan Lewoleba Barat, Lewoleba, Lewoleba Timur, Lewoleba Utara, Lewoleba Selatan, Lewoleba Tenga dan Selandoro, pasti memilih lokasi eks pasar Inpres untuk meraih simpati publik.

Caleg dari Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) Yohanes Boro mengaku, ia memilih lokasi kampanye di eks pasar Inpres karena berada di pusat kota, mudah dijangkau dan strategis. Satu hal yang juga diakui oleh caleg dari Partai Demokrat, Aries Nimanuho. Tidak mengherankan jika para pedagang yang dilarang berjualan, selalu kembali berjualan di areal ini. Lebih dari itu, pedagang sayur dan ikan berinisiatif untuk membuka pasar senja persis di lokasi eks Pasar Inpres Lewoleba. Sebuah tindakan yang sebenarnya melawan aturan.

Dulu pedagang dan pembeli bertransaksi dengan prinsip saling menguntungkan. Ada yang menjual dan ada yang menjadi pembeli. Hukum ekonomi yang serupa namun tak sama, kembali berlaku di musim kampanye kali ini. Ada partai yang menjual program kerja, dan ada masyarakat yang diharapkan mau ‘membeli' apa yang diutarakan di panggung-panggung eks Pasar Inpres itu. Mudah-mudahan pertarungan politisi di lokasi ini akan memperjelas status lokasi paling strategis di Kota Lewoleba itu, ketika duduk di Peten Ina (harafiah: "Ingat Ibu". Nama gedung DPRD Kabupaten Lembata) nanti. (Alexander Taum, Lembata)

aries on Thursday 02 April 2009 at 1:32 pm

One comment

sungguh kami yang berada diluar lewoleba teriris saat mendengar cerita tentang kebohongan pemerintah kabupaten lembata (khususnya lewoleba) yang sengaja menyembunyikan motif terbakarnya pasar Inpres lewoleba ini adalah kejadian-kejadian yang sering dilalami oleh kota-kota besar di indonesia tatkala sesuatu yang diinginkan oleh pemerintah tidak terwujud maka cara-cara seperti itulah yang dipergunakan. maka saya putra lewoleba tanah kelahiranku tanah nenek moyangku, tanah budayaku jangan sampai dikotori oleh mansuia-mansuia pengkihanat, yang terselubung dalam dalam pemerintahan, kejar dan habisi antek – antek itu .

mas mansyur atapukan - 18-05-’09 07:55
Emoticons
Remember personal info?
Notify
Hide email
Small print: All html tags except <b> and <i> will be removed from your comment. You can make links by just typing the url or mail-address.