Suburnya Bisnis Sablon di Musim Kampanye
Bagi sebagian orang, musim kampanye barangkali sangat membosankan, bahkan mengesalkan, karena memacetkan jalan raya. Poster dan spanduk calon anggota legislatif terlihat menambah semrawutnya pemandangan tiap sudut kota. Namun, seperti pengusaha sablon di banyak kota lain di Indonesia, bagi para pengusaha sablon di Kota Malang, Jawa Timur, musim kampanye berarti 'panen raya', karena pesanan datang dalam jumlah besar.
Cuaca yang cukup cerah hari itu, mengantar kesibukan warga Kota Malang melakukan rutinitas pekerjaan sehari - hari. Setelah melewati jalan layang di Jalan Achmad Yani Utara, di utara kota yang cukup padat beberapa waktu lalu, saya tiba Jalan Polowijen Gang 2, tempat pengusaha sablon, Iwan, menjalankan pabriknya. Di sisi barat, pabrik ini berbatasan dengan rel kereta api. Sejumlah warga Malang mengenal bangunan itu sebagai pabrik yang sudah kuno. Setelah mengetuk pintu gerbang di sisi barat, seorang karyawan membuka pintu dan menerima saya dengan senyum. "Nyari siapa, mas ?" karyawan bernama Indra Susanto (25) dengan ramah bertanya. Saya menjawab dengan bertanya, "Mas Ari ada ?" Sang empunya bisnis tidak berada di tempat. Namun di sela - sela kesibukannya Indra berusaha untuk menjawab pertanyaan - pertanyaan yang saya ajukan.
Setelah beranjak ke dalam, ternyata pabrik itu berukuran cukup luas, sekitar lima kali dari ukuran lapangan voli. Atapnya terbuat dari harplek dan seng, sehingga suhu di dalam pabrik itu terasa sangat menyengat. Terbukti, hanya dalam waktu lima menit keringat mulai mengucur dari tubuh saya.
Kepada saya, Indra bercerita bahwa sejak Desember 2008 lalu pihaknya menerima lonjakan pemesanan spanduk, poster dan atribut partai politik. "Mulai bulan Desember 2008 lalu memang mulai ada peningkatan pemesanan atribut parpol dan banner caleg," terang Indra. Peningkatan terus terjadi di Januari 2009, karena musim kampanye mulai menjelang. Menurut Indra, peningkatan omzet mencapai seratus persen. Sambil berkeliling melihat proses penyablonan Indra menerangkan, bahwa untuk memenuhi target pesanan, pabrik mempekerjakan sekitar 12 orang dengan sistem lembur. Untuk dua minggu menjelang pelaksanaan pemilu, Indra menambahkan, omzet mulai normal seperti biasa, karena pesanan dari parpol sudah tidak ada. Sehingga pabrik ini mulai kembali mengerjakan pesanan dari pabrik dan pesanan kantor.
Dari perusahaan sablon di Jalan Polowijen, perjalanan saya lanjutkan ke Jalan Raya Pandaian, tepatnya di usaha sablon yang dikelola seorang pria berusia 49 tahun yang biasa disapa Pri. Tempat ia menjalankan usaha tidaklah besar, hanya sekitar 12 meter persegi, dengan dinding yang terbuat dari triplek. Ruangan yang tergolong sempit untuk usaha sablon. Dibantu dua orang rekannya, Pri menjalankan bisnis sablon ini. Sambil memegang rakel, Pri meneruskan pekerjaannya dan menerangkan, "Omzet menjelang pemilu memang ada penambahan. Tapi tidak banyak yang bisa saya lakukan mengingat tenaganya cuma tiga orang. Nggak tahu ya, order yang besar siapa yang mengerjakan," ungkap Pri. Bersama tiga orang rekannya, sehari Pri rata - rata mampu mengerjakan 500 hingga 600 kain bahan kaos partai politik. "Kebetulan hari ini seperti yang Mas lihat, saya mengerjakan sablonan pesanan partai politik," lanjut Pri. Di halaman depan terlihat, bahan kaos yang telah disablon dijemur agar cepet kering. Saat bersamaan seorang pelanggan datang untuk menanyakan pesanannya.
Berbeda dengan Pri, seorang wanita pelaku usaha sablon dan setting, Farida Aryani menuturkan, "Memasuki masa pemilu legislatif, omzet saya meningkat mulai awal Januari 2008, terlebih memasuki bulan Februari dan Maret omzet saya meningkat seratus persen lebih." Farida, yang membuka usahanya di Jalan MT Haryono XII sebelah barat Kota Malang, ini mengaku kebanjiran pesanan. Hal ini membuat ia harus mencari tambahan tenaga paruh waktu, agar target pesanan bisa terpenuhi. Menurutnya, hal ini lebih aman dari sisi pengelolaan anggaran, karena tenaga paruh waktu sifatnya "lepas" dan bisa segera diberhentikan ketika pekerjaan sudah selesai. Begitulah demokrasi di Indonesia. Di tengah apatisme warga pada pemilu, bisnis ini justru terus tumbuh subur. (Alim Mustofa, Malang)








