Suara Perempuan Tepi Kali Brantas
Sebagian orang berpandangan, saat ini kebebasan berekspresi sudah terbuka begitu lebarnya, berdasarkan fakta karena ada begitu banyak ‘saluran' untuk mengekspresikan apa yang menjadi aspirasi mereka. Padahal, bagi sejumlah orang pemilu yang akan datang masihlah membingungkan. Berikut ini sejumlah ekspresi empat wanita Jawa yang tinggal di pinggiran Kali Brantas, Malang, Jawa Timur soal pemilu yang akan datang.
Erni Lukianti (45), Widianti, Trisetyorini (45), and Frisya Dianita (28) masih merasa bingung dengan banyaknya jumlah partai politik dan calon anggota legislatif di pemilu April mendatang. Mereka adalah warga yang tinggal di tepian Kali Brantas, tepatnya di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Mereka hidup di daerah yang sama sekali tidak tertata, di jantung Kota Malang, di depan Hotel Kartika Graha, Hotel Trio Indah, dan Restoran McDonald yang mewah. Karena sempitnya gang di area itu, anak - anak mereka sama sekali tidak memiliki tempat bermain. Menurut Widianti, sangat sulit untuk memperluas rumah mereka. "Nggak bisa ke belakang, juga ke depan," jelasnya. Mereka hanya bisa membangun rumah yang sederhana dengan dua hingga tiga lantai. Beberapa dari mereka - yang terdiri dari 50 keluarga - bekerja sebagai petugas kebersihan di Rumah Sakit Saiful Anwar tak jauh dari situ. Selebihnya, bekerja sebagai satpam, pengemudi becak, dan penjaja makanan.
Erni sekarang menjadi ketua PKK, selain bekerja sebagai juru setting di industri sablon, yang sekaligus bertugas dalam pengiriman barang. Per hari ia menerima upah Rp.15 ribu. Meski upah itu dinilai sangat kecil dibanding tanggungjawabnya yang berat, ia mengaku uang itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keempat anaknya. ""Ya, daripada nganggur juga kan, Mbak," katanya.
Tetangga Erni, Widianti, adalah seorang ibu rumah tangga yang suaminya bekerja sebagai satpam di sebuah tempat pemandian. Erni maupun Widianti mengaku masih merasakan kebingungan, karena begitu banyak caleg dan partai yang akan bersaing di pemilu mendatang. "Saya masih bingung,"Erni said. Semua calon datang dengan begitu banyak janji dan harapan. Maka sejauh ini Erni tidak mempermasalahkan siapapun yang jadi nanti. "Yang paling penting, jangan bohong! Kami sudah capek," ia menggarisbawahi.
Sementara itu, Trisetyorini -yang biasa disapa Rini- dan Frisya mengakui mereka masih bingung menghadapi pemilu yang akan datang. Siapa saja partai yang bersaing, para caleg, dan juga prosedur pemilihan. Ketika ditanya calon yang dia suka, ia menyebut nama Presiden Yudhoyono. Ia hanya tertawa, ketika tahu bahwa ternyata tanggal 9 April mendatang adalah pemilu legislatif, bukan pemilihan presiden. "Saya masih bingung,kebanyakan, " katanya. Frisya juga belum mengetahui siapa saja caleg yang akan bersaing 9 April nanti. Ia hanya berharap, hal terpenting yang harus dilakukan para calon adalah memberikan layanan kesehatan dan pendidikan gratis, dan menyediakan lapangan pekerjaan. (Any Rufaidah, Malang)








